Minggu, 24 Mei 2009

Sungguh, aku memahami, kita masing-masing memiliki sisi yang tak bisa dipahami oleh individu lainnya. Itulah hakikat kita diciptakanNya berbeda-beda. Karena itu pula kupahami, bahwa meski kita telah diciptakan dalam ruang yang sama, namun tak selamanya kebahagiaan itu dirasakan bersama.

Sudah pasti, aku, kau, dan semuanya, ibarat hitungan matematika memiliki lingkaran masing-masing. Namun tetap memiliki persinggungan. Dalam ruang dan waktu, kau memiliki ruang lain tempat kau bisa merasakan bahagia dan sedih. Tanpa aku, kau bisa bahagia dengan lainnya. Bersama keluargamu, teman, dan sebagainya. Begitu juga aku. Meski begitu ada kepentingan yang memaksa kita untuk bertemu pada sebuah ruang bersama. Saat itulah, kita akan berbagi cerita. Mungkin, kau, juga lainnya bisa jadi mendapatkan nilai lebih di ruang lain, bisa jadi juga di tempat kita bersama.

Aku menilai, dalam proses inilah tiap individu butuh konsistensi. Terkadang diantaranya ada yang jadi naif, dan boleh jadi adalah pecundang, pendusta, bahkan nista. Di ruang persinggungan, berwatak baik, dengan segala simbol kesucian. Namun bila di ruang lain, berbeda jauh... Aku tetap memahami itu, namun tak seluruhnya...!!!

Minggu, 19 April 2009

Nampaknya, hujan baru saja berlalu. Aroma tanah basah bercampur aroma laut, meruap menembus kaca mobil. Bau yang masih kukenal, khas pesisir.

Perlahan, mobil yang kami tumpangi memasuki jantung kota. Rasa antuk mendera, namun aku mencoba menelisik suasana.

Setahun telah lewat, kini aku kembali. Di kota ini, nyaris tak ada yang berubah. Seluruhnya masih sama, bangunan-bangunanya. Jalan, dan tiap sudut pasar sentral yang terletak dekat alun-alun kota.

Dulu, aku hadir di tempat ini tak lebih dari seorang pemuda minim pengetahuan, dengan frame primordial "tallu cappa", menilai diri sebagai lelaki pemberani, turunan perantau, penjelajah dan penakluk, yang acap diliputi rasa penasaran pada tiap jengkal tanah tak kukenal. Sungguh emosional. Tak puas menambat perahu di daratan ini, aku lalu melanjutkan perjalanan menuju tanah berikut. Begitu seterusnya...

Kini, tak lagi seperti itu. Aku berpikir, perjalanan tak semata meruahkan rasa emosional, tapi sebaliknya, mereduksi itu. Perjalanan hakekatnya proses mengenal diri dan memahami keterbatasan. Ke tanah mana lagi kaki dipijakkan? Tentu, sangat penting merenungkan serta menentukan arahnya. Juga memikirkan konsekuesinya.

Ada adigium mengatakan, kenalilah dirimu, maka niscaya kau akan mengenal "yang ada". Sungguh, tiap pijakan akan tergerus, fana, pupus oleh waktu hingga akhirnya kepadaNya-lah bermuara.

Kisah leluhurku mungkin heroik, bahkan juga romantik, seperti pula yang lainnya di tanah ini, karena itu aku bangga. Namun, itu tak mampu melebihi sejarah bangsa Mongol di belahan bumi sana, Gengis Khan hingga ke cucunya, menguasai seperdua dunia, dan berhasil mewarnai peradaban besar. Juga kisah-kisah leluhur orang Eropa, Tanah Arab dan beribu entitas manusia lainnya. Mereka bahkan pernah menguasai tanah tempat kita berpijak kini. Itu fakta...
***
Suasana kota ini, tak yang ada berubah. Di sini, senja tak pernah menghapus jejak...tapi pupus oleh bayangan gunung. Mungkin, itulah yang membuat temanku terhenyak. Ia akhirnya mengakhiri lajang, dan mengundangku menyaksikan riuh pestanya di kota ini, hehehe...





Selasa, 14 April 2009

aku membelai wajahmu
hanya di jalan sunyi...

usai malam
kini usiaku rapuh...

Kamis, 19 Maret 2009

Mau Nulis Lagi...

Setelah lama tak menulis di halaman ini, sepertinya sebagian diriku telah hilang. Itu baru kusadari, setelah lama memendam pikiran, dan kemudian terhenyak. Agh, kenapa aku tak menulis lagi. Apa yang mengungkung aku, hingga kebiasaan menoreh di blog, hilang.

Pada perjalanan sebelumnya, kutahu persis, satu-satunya kekuatan mendorongku menulis- meski dengan tatanan tulisan tak karuan, adalah rasa. Kekuatan itu, acap kali membuatku tak mampu mengelak, lalu mematerikan tiap yang abstrak dalam huruf-huruf beku,

Tapi paruh waktu terakhir, kepekaan hati itu juga tak menuntun tanganku untuk bisa menggores kalimat. Sebaris pun tidak. Bahkan, banyak momen penting lewat begitu saja.

Mungkin ini saatnya memulai lagi. Setelah benar-benar kurasakan, banyak peristiwa penting, sangat penting, yang merupakan salah satu bagian dari sisi hidupku perlu diabadikan. Insya Allah, esok aku akan menulis lagi…

Selasa, 02 Desember 2008

Malam, AJI, Teater dan identitas

Malam telah beranjak seperdua, namun mataku tak jua terpejam. Entah, apalagi sebab yang menekuk kantukku. Aku terus dalam pusaran terang. Sementara, angin Ac itu terus mendesir, berusaha menghempas nyamuk-nyamuk ganas yang emosi dan bernafsu tuk terus menggagahi seluruh tubuhku. Ugh! Malam yang malang. Aku hanya bisa merengkuh pada ketakberdayaan melawan pekat hitam di ruang hanya beralas secarik kain gorden jendela. Harusnya, aku ke rumah malam ini. Namun telah larut.

Tak seperti malam-malam kemarin, kulalui begitu pulas. Meski tak ada jalan pulang ke rumah. Namun setidaknya ada pilihan suasana untuk lepas dari jeratan gulita. Senin, malam. Aku kembali singgah di sekretariat salah satu organisasi jurnalis di kota ini. Kebetulan, seorang senior, dan beberapa wartawan televisi mau menemani melewati malam di sana.

Kami menggelar karpet di lantai dua rumah. Bukan dalam ruangan, tepatnya di atap rumah. Ya, kami menyebutnya atap, hanya saja terbuat dari coran beton. Aah, ide yang gila. Tapi bagaimanapun, hanya itu cara menerobos waktu malam ini. "Kita orang miskin, juga harus belajar hidup bahagia," kata Kak Ahmad, salah seorang wartawan Trans Tv di Makassar, sambil lalu mengangkat Laptop milik Yunus, kontributor Metro Tv, ke lantai dua sekertariat AJI. Memang, ia yang mencetuskan ide itu.

Kami nonton pilem, "Sometimes in April". Meski sudah pernah kunonton, namun dengan view terbuka, pilem ini tetap mengugah. Sesekali memandangi bintang, dan berseloroh tentang banyak hal. Waoww!! Meski suntuk, tapi malam yang asik.

Juga pada malam Minggu. Seperti pula malam ini, ruang kembali ke rumah telah sesak. Tapi, ada tempat memilih membunuh waktu, di Gedung Socited de Harmonie. Kudengar dari seorang kawan, sebuah pementasan teater, kalau tidak salah bertajuk I Mangkawani, tengah berlangsung di tempat itu. Menurutnya, ceritanya bagus. Berkisah tentang hubungan cinta seorang putri raja, namun berakhir dengan tragis. Kurang lebih seperti kisah Romeo dan Juliet-lah di Eropa sana. Apalagi yang main, banyak aktor atau seniman senior pula.

Wah, tontonan menarik. Dulu, untuk menyelingi rutinitas kuliah yang sumpek, kadang aku ke Gedung Socited menyaksikan teater. Meski tak memiliki bakat seni dan tak berniat jadi seniman, aku cukup memerhatikan dunia pementasan. Tentunya dalam batas sebagai penikmat saja.

Kini, aku kembali singgah. Yup, benar saja. Aku menemukan gedung telah dipadati penikmat seni peran itu. Banyak mahasiswa, tak jarang berpasangan. Diantaranya, juga sempat kutemui sejumlah penulis sastra Kota Makassar. Ada juga wartawan. Entah, mereka meliput atau sama saja denganku, nonton gratis!

***

Lumayan, pementasan ini cukup mendapat apresiasi. Sangat jarang suasana begitu kutemui di gedung ini. Aku tahu, sejak dulu hanya lekat dengan kesunyian. Orang-orang disini, hanya serupa malam tanpa bintang. Mereka terus menggeliat dengan peran, namun hanya berakhir pada garis malam yang sepi. Artis tanpa penggemar. Tak sadar, wajah mereka hanya menampang lusuh, terus menggurat digerogoti tembok-tembok gedung tua peninggalan Belanda. Apakah karya yang kerontang, tak menggugah, ataukah zaman memang tak memihak. Entah, aku tak sepenuhnya memahami. Namun karya mereka tetap berusaha kunikmati sebagai pengganti sepotong malam yang tercecer.

***
Kini, aku terjebak pada malam. Lantas singgah di sebuah ruang tak berpihak. Nyamuk, angin Ac yang mengigit, dan beralas secarik kain gorden. Sedari dulu, kerap aku ke ruang ini. Memang selalu begitu. Kita dituntut hidup tak beralas. Namun, ketika itu begitu banyak simpony yang hadir bersama malam, meski hanya ditemani sebuah kipas angin butut. Aku pulas diiringi detak mesin ketik, gerutu mahasiswa membuat makalah, celoteh perlawanan dari bilik sebelah, alunan suara gitar, dan aroma kopi pekat.

Rabu, 29 Oktober 2008

Suara Suling Jerami

Hujan tengah rintik, pada sore redup ini Aku kembali meresapi suaramu. Tak henti seperti air hujan yang jatuh tak berjedah. Aku merasai seperti suling jerami yang ditiup gadis-gadis desa di tebing-tebing bukit saat panen. Suaranya, bertiup dibawa angin gunung ke ngarai pada pagi. Nadanya sendu, sejuk, basah oleh embun yang bergelantungan pada daun-daun pakis. Lalu, meresap pada setiap ubun-ubun lelaki desa di bawah lembah.

Tahukah, tiupan suling jerami itu adalah tanda, seiring musim panen gadis-gadis desa di atas bukit juga tlah bertumbuh dewasa. Karena itu, mereka meniup suling jerami yang dililit daun nyiur, agar suaranya dapat membelah belantara hutan bambu, hingga ke ngarai-ngarai. Penuh harap, semoga ada lelaki baik yang rela menyambangi rumahnya saat pesta panen digelar.

Selasa, 21 Oktober 2008

DOKTRIN

Haru sedikit bercampur bangga, aku mendapat undangan dengan nama yang dibelakangya dibubuhi embel-embel S.IP....Kalau kuingat-ingat, rasanya baru kali ini namaku dibelakangnya ditambah tiga abjad yang dijedahi satu titik tersebut. Ehm, setelah enam tahun kuliah akhirnya ada juga yang mengingatku dengan gelar sarjana ilmu politik itu. Sayang, hingga kini ijasah itu masih sebatas jadi barang antik yang tersimpa apik dalam lemariku, hehehehehehe.
***

Adalah adik-adik dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, yang melayangkan undangan lewat short message dengan permintaan, turut "ambil jatah" dalam penutupan perkaderan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan Tahun 2008. Maksudnya, agar aku bisa memberikan doktrinasi terhadap mahasiswa baru tersebut di sela-sela ceremony penutupan di lapangan Fisip.

Awalnya senang, karena diundang dengan embel-embel gelar. Eh, sekarang aku agak "menggigil". Doktrinasi??? Waktu aktif di lembaga mahasiswa dulu, kata itu yang kuhindari.

Dalam hematku, sebagai lembaga yang tak berbasis ideologis, konsep doktrinasi sejatinya tak menjadi metode dalam rekrutmen keanggotaan. Aku lebih menganggapnya sebagai bentuk upaya penseragaman berpikir, dan merupakan hegemoni. Jadi meski, kekerasan fisik telah hilang dalam penerimaan mahasiswa baru, namun kekerasan lain masih tetap ada, yaitu memaksakan fram berpikir dalam kerangka yang sama. Jika begitu, maka pasti tak akan ada lagi dialektika.

Sudah hakekatnya, dalam setiap entitas kehidupan manusia, nilai selalu ada. Menurutku, pada titik itulah yang akan mempertemukan kita pada konsepsi yang sama, dan sekaligus juga memetakan kita pada ruang berbeda.

Pada lembaga kampus, setiap kita menjunjung tingga nilai. Namun tak harus sama di dalamnya. Pada wilayah tertentu, ada kalanya mahasiswa sama-sama turun ke jalan karena masalah yang dihadapi sama, dan ada kalanya tidak. Itulah lembaga mahasiswa. Ia harus mengakomodasi segala bentuk perbedaan di kalangannya, agar meski berbeda namun tetap satu.

Berbeda pada lembaga ideologis, di sana selalu ada satu kerangka yang dianggap solusi hidup. Ia adalah keyakinan tanpa materi, transenden. Karena itu doktrinasi berjalan pada bentuknya tanpa meski dipaksakan-meski pada soal metode, juga kerap terjadi pemaksaan. Tuhan memberikan dua jalan, baik atau buruk.

Kita selalu dianjurkan untuk berjalan pada kebaikan. Bagaimana agar baik? Maka taatilah tata nilai yang berlaku pada agama anda. Dalam segala hal, termasuk pendidikan. Juga ada meteode yang digunakan. Umumnya dalam lembaga ini dikenal adanya unsur pembebasan. Seperti yang diungkapkan pakar Teologi kenamaan, Faulo Freire bahwa nilai ketuhanan akan membebaskan setiap manusia dari ketidakadilan yang terbangun lewat pendidikan formal tersktruktural.

Nah, pada lembaga mahasiswa, kerangka tetap ada, namun lebih akomodatif. Susah memang. Karena itu bila bicara soal kemahasiswaan, apalagi doktrinasi, aku kerap menganggap tidak kapabel untuk itu. Aku hanya berpikir, biarkanlah mahasiswa-mahasiswa baru itu berjalan pada tata nilai yang diyakini, dan beranjak masuk ke lembaga mahasiswa dalam persepektif masing-masing. Kelak, mereka dengan sendirinya akan terikat pada tatanan lembaga itu. Karena pada langit-langit lembaga mahasiswa, selalu menggelayut beribu cita-cita, impian dan harapan. Tidakkah sebaiknya kita cukup membangun komitmen dan konsistensi bersama.........