<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484</id><updated>2011-09-06T07:05:39.710-07:00</updated><title type='text'>SUDUT TAMALANREA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>35</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-1242953001867507780</id><published>2010-12-10T01:29:00.003-08:00</published><updated>2010-12-14T05:25:11.143-08:00</updated><title type='text'>Menanti Hujan Reda dan Spirit Sayyid Qutb</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ba’da Magrib hampir tiba. Tapi hujan lebat yang mengguyur bilangan hertasning sejak sore ini, belum menampakkan tanda reda. Air yang dituang malaikat dari langit itu bahkan mengguyur lebih hebat. Larik-lariknya bak tirai putih yang digelar menutupi mulut beranda warung ini. Tatapan dibatasinya, meski ingin melihat-lihat suasana saja-bahkan, sekedar untuk mengeja singkatan nama perusahaan listrik negara, yang terpampang lebar pada dinding pagar di seberang jalan, tak bisa lagi.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Aku enggan beranjak dari warung kopi yang kebetulan milik seorang kawan ini. Rasanya, ingin berlama-lama. Niat menunaikan kewajiban pada Ilahi Rabb di masjid dekat rumah, urung. Aku pasrah, kembali melanjutkan kebiasaan sebelumnya, ba’da magrib di tempat ini-Teringat kalam Allah, dimana dan kemanapun kau berpaling, disitu ada wajah Allah Swt.&lt;br /&gt;"Timur dan Barat kepunyaan Tuhan, maka kemana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan" (QS. al-Baqarah 115).&lt;br /&gt;Aku mencoba memahami kalimat itu dengan akal, tulus dan melandasinya dengan rasa ikhlas, meski sepenuhnya pula kusadari, berjamaah di masjid, itu lebih baik. Tapi, mungkin ini bisa dikatakan pengecualian, karena ada alasan. Wallahu a’lam... ...&lt;br /&gt;Bukan tak siap kuyup diguyur hujan. Tapi, aku khawatir saja. Jika nekat, ransel, serta buku dan laptop yang ada di dalamnya, juga ikutan kuyup. Duh, sayang kan?!&lt;br /&gt;Kemarin-kemarin, hujan tak lama makanya hari ini aku tak bawa mantel. Kupikir hari ini juga terjadi hal sama. Jadi kutinggal saja di rumah. Ya, sebagai manusia, lazimlah mengira-ngira. Pada akhirnya Allah Swt yang memastikan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Matahari telah lenyap ke belahan bumi lain. Dan, kini malam sepenuhnya berkuasa. Sepotong jalan hertasning yang membujur di depan warung ini, mulai dipenuhi cahaya-cahaya. Tapi, hujan belum reda.&lt;br /&gt;Di warung ini, aku tak sendiri. Di sampingku, duduk seorang pengunjung laki-laki. Ia duduk mematung, tak bergeming di depan laptopnya. Di atas meja, dekat laptopnya itu, tergeletak sebungkus rokok putih. Juga Sebuah gelas berisi kopi yang setengahnya pupus diseruput. Sejak sore tadi, ia memang tak henti menghisap dalam, batang demi batang rokok, mengasapi seisi ruangan.&lt;br /&gt;Hujan membuat orang ini lebih dalam lagi mengisap rokok. Ia begitu menikmati suasana, dan lebih tenang, fokus mencari-cari bahan persentase untuk acara seminar. Sesekali aku diajaknya bicara soal masa depan negeri ini-Barangkali menanggapi informasi yang didapat di situs berita. Salah satu yang dikatakan,“Di Medan, perampokan Bank kembali dikaitkan dengan aksi terorisme. Apa benar?? Jangan-jangan fakta itu hanya peta yang diciptakan.&lt;br /&gt;Masa sich!? di era modern ini masih ada sekelompok orang yang ingin memaksakan keyakinan dan kehendaknya pada kelompok lainnya”. Makin banyak referensi ditemukan di internet, komentarnya makin gencar pula.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hujan masih mengguyur deras. Depan sebelah kanan, pada meja yang dekat dengan pintu masuk, ada lima perempuan berbincang-bincang. Dari tempatku, suaranya lamat-lamat.&lt;br /&gt;Hanya satu, atau dua kata saja yang tegas kudengar. Diantaranya ada kata-kata kawin, pasangan ideal, urusan dapur, saling memahami, dan lain-lain. Mungkin, mereka seluruhnya masih gadis. Satu yang paling tegas, ruangan ini jadi gaduh akibat suara slopnya yang keranjingan membentur lantai, tak henti-henti.&lt;br /&gt;Sejam lalu, para perempuan itu telah memesan lima gelas teh. Dan, kini menikmatinya dalam riuh derai hujan. Aku menebak-nebak, kenapa mesti teh? Barangkali untuk menghangatkan suasana, juga jadi amunisi, agar pita suara mereka tak lelah berkicau, bak burung di pagi hari&lt;br /&gt;Atau, guna membongkar mainstream atas warung kopi yang selama identik dan didominasi lelaki. Mungkin, mereka harap warung kopi berubah nama jadi warung teh, esok.&lt;br /&gt;Teringat catatan tentang khasiat teh dalam sebuah situs yang kubaca beberapa hari lalu, juga di tempat ini. Penulis dalam situs tersebut mengungkapkan, mereka yang biasa minum teh sejak muda, risiko terkena osteoporosis kurang. Si penulis menyadur informasi dari laporan hasil penelitian Verona M Hegarty (2000) dan para peneliti dari Clinical Gerontology Unit, University of Cambridge School of Medicine serta Rumah Sakit Addenbrooke di Cambridge, Inggris, yang dimuat dalam American Journal of Clinical Nutrition (2000).&lt;br /&gt;Penelitian dilakukan pada 1.256 perempuan berusia 65-75 tahun, terdiri atas peminum teh 1.134 orang dan bukan peminum teh 122 orang. Mereka diukur BMD (bone mineral density, kepekatan mineral tulang) pada beberapa tulangnya. Hasilnya, ukuran BMD tulang-tulang peminum teh secara signifikan lebih besar dari pada kelompok bukan peminum teh. Ukuran BMD yang besar menunjukkan kekerasan tulang sehingga tidak mudah rapuh.&lt;br /&gt;Hmmm..., smoga mereka memikirkan hal sama.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Laun-laun bulir hujan mengecil. Suara timpahnya pada atap seng rumah sebelah, juga mereda. Tadi, atap itu menimbulkan bunyi serupa alunan pukulan rancak tak menentu. Yah, hujan memang punya irama sendiri. Sederas-derasnya, jua akan menangkan hati. Seperti yang kurasa kini. Bersama segelas kopi, hujan telah membawaku larut dalam penelusuran diri.&lt;br /&gt;Refleksi atas hidupku. Pada segala yang kutinggal di belakang, dan harapan pada esok hari. Betapa kuasa Allah Swt yang telah menurunkan rahmat ini. Benar apa kata Al Qur’an, sesungguhnya ditiap-tiap ciptaanNya itu, terdapat tanda-tanda kekuasaanNya. Maka, wajib bagi manusia mengimani segala tanda-tanda itu.&lt;br /&gt;Mungkin karena keIlahiannya itu, suara hujan begitu menenangkan hati.&lt;br /&gt;Hmmm...lama-lama, tak ingin rasanya hujan ini pergi. Meski sedari tadi, aku menunggunya agar reda. Aku benar-benar larut dalam buaiannya. Terbawa pada alas pikir tentang hidup, ego, rasa angkuh, dan kesombongan diri. Aku mencoba bercermin pada kehidupan yang telah kulewati. Sekedar menghitung-hitung perbuatan, pendirian, dan sikap. Di tanganku, tak lepas buah pikiran Sayyid Qutb. Ia membantuku menemukan jawaban-jawaban atas berbagai soal yang menggelayut di kepala.&lt;br /&gt;Yah, telah separuh usiaku di atas dunia. Tapi, apa yang telah kuberikan kepada sesama, ibu, adik, dan kakak-kakakku? Apa doa-doaku akan kebahagiaan ayah di kehidupan sesungguhnya diterimaNya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkelebat di kepalaku. Pertanyaannya tak cuma itu, benar-benar banyak hingga benakku menyentuh-nyentuh. Kata Aid Al Qarni dalam La Tahzan, “kematian itu lebih pasti dari masa tua”.&lt;br /&gt;Acapkali aku merasa, ego menghadapi hidup ini. Hanya memikirkan diri sendiri. Bahkan, tambah lagi, tak punya rasa sukur. Materialistis. Tak pernah puas dengan apa yang telah dimiliki. Aku sibuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupku. Sementara, di sekitar begitu banyak manusia-manusia lebih miskin dan menderita. Mereka butuh uluran tangan. Tak hanya soal makan, juga dalam hal pengetahuan.&lt;br /&gt;Mungkin, seorang aku tak dapat mengeluarkannya dari kemiskinan, juga kebodohan. Namun substansinya terletak pada masalah, apa yang telah kuberikan buat mereka. Juga manusia-manusia lainnya. Apa yang telah mereka berikan pada sesamanya manusia. Apa tak hanya ego, menumpuk-numpuk kekayaan, tak melirik ke kanan dan ke kiri.&lt;br /&gt;Beberapa study tentang Islam, Sayyid Qutb menyebutnya sebagai ego fanatik. Tak hanya terjadi dalam relasi atau hubungan kemanusiaan, diri dengan diri, diri dengan manusia lainnya, lingkungan, serta dengan Sang Ilahi Rabbi. Dalam pandangan tokoh ikhwanul muslimin ini, ego berlebih yang mengedepankan materi, tanpa pijakan nilai Ilahi, maka sama saja menciptakan berhala-berhala dalam hidupnya. Bahkan termasuk terhadap keyakinannya.&lt;br /&gt;Ego terhadap keyakinan, bila memaksa orang lain mengiyakan keyakinannya itu. Begitu pula ketika sekelompok manusia mengatasnamakan jenis kelamin sebagai alat untuk mengukuhkan sikap dan pikiran mereka sebagai kebenaran mutlak, dalam menilai lainnya. Atau mereka membuka kesenjangan, perbedaan antara laki-laki dengan perempuan dalam konteks hidup bersosial, berbudaya, dan bahkan beragama.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sejak berabad-abad silam, setelah kemenangan kekhalifahan Islam Ottoman atas Romawi Timur atau dikenal dengan Bizantium, perang salib rupanya belum berakhir. Barat, dengan keyakinan kudus memendam sakit hati. Mereka tak henti menyerang kekuatan Islam di Eropa bagian timur, kemudian menaklukkannya. Dengan misi Glory, Gold, dan Gospel, mereka menjelajah ke negeri-negeri Islam, memasuki pusat peradaban Islam di tepi-tepi Eufrat dan Tigris, hingga Asia. Semangat kekhalifahan pudar, dan kolonialisme lahir. Sejak itu pula, banyak negeri-negeri berpenduduk muslim tercerabut dari keyakinannya yang azali.&lt;br /&gt;Kehidupan sosial politik terpisah dari keislaman. Lewat prinsip-prinsip demokrasi, barat sukses merubah pola interaksi sosial dan kebudayaan suatu negeri. Isu-isu hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, gender, dan lain-lain. Padahal, jauh sebelum revolusi industri bergulir di Inggris, di Kota kecil Medinah, Muhammad bin Abdullah, Rasul Allah Swt telah bersabda, “Siapa yang membunuh budaknya akan kami bunuh pula. Siapa yang memotong bahagian badan budaknya akan kami potong pula bahagian badannya. Siapa yang mengembiri budaknya akan kami kembiri pula” (Bukhari dan Muslim ). Itulah bentuk penentangan pada perbudakan, bentuk ketimpangan paling rendah dalam kehidupan manusia.&lt;br /&gt;Perbudakan yang lazim bagi bangsa arab pun hilang. Manusia diciptakan Allah, dan sama dihadapanNya.&lt;br /&gt;Allah Swt lewat Muhammad telah mengurai soal gender. Bahkan disajikan dalam topik utama Surat an-Nisa’, salah satunya menjelaskan,“Laki-laki memperoleh bahagian dari apa yang mereka usahakan. Wanita memperoleh bahagian dari apa yang mereka usahakan.” (32).&lt;br /&gt;Jejak kesuksesan barat itu, sangat terasa kini. Bahkan mengakulturasi dalam kepribadian sebagian besar umat muslim. Oleh intelektual barat, sekulerisme dan liberalisasi berjalan tanpa kendala serius di negeri-negeri umat islam melalui ilmu pengetahuan. Islam tak dapat membendung karena sebelumnya, jauh di era kolonial, bangsa-bangsa eropa dalam hal ini Inggris, telah sukses menginfiltirasi gerakan islam. Membangun dialektika hingga perbedaan pun kian tegas di kalangan umat islam sendiri. Berhala baru lahir sebagaimana dipaparkan sebelumnya, yaitu berhala barat dan fanatisme umat islam. Barat, melahirkan paham fanatik kebangsaan yang melegitimasi peran agama dalam kehidupan. Materialisme postivistik menggantikan keyakinan, hingga akhirnya mendorong manusia memburu kekayaan dunia, berlomba-lomba menciptkan teknologi mutakhir untuk saling menaklukkan. Dan, kemudian merusak keseimbangan alam. Sementara, dalam diri umat islam fanatisme ditandai munculnya seabrek organisasi berbasis keislaman. Dengan manhaj masing-masing, jarang saling membenarkan. Lebih banyak menyalahkan, bahkan saling menyesatkan.&lt;br /&gt;Risalah Muhammad Saw adalah revolusi pembebasan manusia secara total, mencakup seluruh kehidupan manusia, dan menegakkan aqidah islam. Karena itu, Sayyid Qutb mengatakan revolusi dalam islam adalah menentang berhala kefanatikan dalam segala bentuk rupa dan warna, juga kefanatikan agama. “Tidak boleh ada paksaan dalam agama! Yang bijaksana itu telah nyata bedanya dari yang sesat. Siapa yang ingkar kepada berhala dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang kuat yang tidak akan putus.” (al-Baqarah : 256).&lt;br /&gt;Menentang kefanatikan kebangsaan yang berdasar pada persamaan bentuk, warna kulit, bahasa, tempat lahir, dan sebagainya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hujan berakhir di pucuk malam, dan benar-benar telah berlalu. Segala soal yang membebaniku juga resap ke dalam tanah dibawanya. Kini, tersisa rindu.....&lt;br /&gt;Hertasning, 12 September 2101, saat rinduku memuncak... ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-1242953001867507780?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/1242953001867507780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=1242953001867507780' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/1242953001867507780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/1242953001867507780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2010/12/menanti-hujan-reda-dan-spirit-sayyid.html' title='Menanti Hujan Reda dan Spirit Sayyid Qutb'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-2040113744760625706</id><published>2010-06-04T05:27:00.000-07:00</published><updated>2010-12-14T04:53:38.949-08:00</updated><title type='text'>Warung Kopi, Facebook dan Menikah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dinding langit di bagian timur masih samar. Gelap belum seutuhnya menguasai kota ini, namun laun-laun, pengunjung berdatangan. Kini, warung Kopi Marasa pelan-pelan sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti malam-malam sebelumnya, tempat ini memang selalu ramai. Namun tak biasanya, sedini ini.  Jarum jam dinding yang dipajang di atas pintu menuju kamar mandi,  baru menunjuk pukul 18.00.  Itu adalah waktuku  di warung ini. Memasung diri di atas salah satu kursi beranyam rotan yang diletakkan berpasangan sebuah meja di bagian depan. Yah, sebelum semuanya datang, dengan segala perbincangan, keluh dan kesah ke tempat ini. Aku berteman segelas kopi. Tak luput, “My Jihad”, satu buku dari sekian  yang tersedia dalam rak terpajang  pada ruangan dekat meja kasir. Itu selalu kubaca tiap ke warkop ini. &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;Malam ini, waktu rasanya berjalan lebih cepat.  Aku belum memesan kopi.  My Jihad, juga tak sempat kutengok. Tapi pengunjung telah lekas berjubel.  Agh! Rasanya terdesak situasi.  Aku lantas bergeser ke sudut bagian kiri ruangan.  Dari sini, aku dapat mengamati seisi warung, dan menyimak saling silang perbincangan sesama penikmat kopi.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suara falas Bang Iwan, dari sini juga lebih jelas. Sejak tadi, tembang Maestro musik Indonesia itu menyuasanai ruangan.  Sebuah Sound System bentuk segi empat  dipasang tepat dibelakangku. Musiknya, barangkali disambung langsung ke Laptop pemilik warung di atas meja kasir. Iramanya membuatku sejenak diam.  Lalu segenap pandanganku kuarahkan pada wajah-wajah pengunjung. Tak jauh beda dengan malam kemarin. Wajah-wajah itu masih sama. Yang awal tiba, itu si A anak LSM, kemudian yang itu si B, dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar. Dan, yang duduk di sudut sana, anggota DPR Sulawesi Selatan. Umumnya, mereka juga saling kenal. Ada benang mengaitkan mereka. Dan, itu adalah politik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di warung kopi, politik tetap menjadi bahan dialog menarik, sebagaimana mendiskusikan masalah musik, karya sastra, dan lainnya. Terikat pada minat saja, dan dari sisi apa melihatnya. Namun malam ini, bagiku  tak tepat untuk soal itu. Ini sama rasanya usai disuguhi cerita jorok di meja makan. Aku hilang selera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, obrolan warung kopi tak melulu masalah politik, di selanya pasti hadir topik lain. Dari gosip selebritis, hingga perbincangan sampai pada tema di “luar kepala”.  Logika ekstrimnya, apa yang tidak bisa di warung kopi. Korelasi atau pengaruh perubahan arah kiblat terhadap perilaku masyarakatpun, bisa. Hanya, lagi-lagi malam ini tak tepat buatku. Entah! Situasi ini juga sulit kuterjemahkan.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;Minat seruput kopi dan baca My Jihad kini ruap. Bagaimana tidak, obrolan ekonomi dan politik, dari soal Century hingga  sebab perkelahian mahasiswa memonopoli suasana.  “Agh! Apa yang mesti enak dilakukan dalam situasi ini”, pikirku. Mataku tertuju tas ransel merk eager yang kubeli semasa kuliah dulu, tepat dibawah kursi. Segera kuambil laptop dari dalam kantong depannya! “ Hmmm, lebih baik online”, hatiku bergumam, mengharap sapaan dari siapapun yang “tersesat” dalam labirin dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka emailku yang beralamat di Yahoo. Ini sudah sepekan, setelah lalu aku membukanya untuk tahu hasil rekap berita bulan ini. Biasanya, kantor biro kembali mengirim rekap susulan enam atau tujuh  hari setelah itu. Dan,  ini tepat hari ke enam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutekan kotak inboks, dan seketika  di layar muncul  deretan pesan baru. Kutelisik, tapi soal rekap tak ada. Tak lagi ada alasan lain memandang deretan pesan selain rekap, jadi email kututup saja. Perhatianku beralih ke jejaring sosial yang tengah populer di kalangan anak-anak muda saat ini, facebook.  Memang, aku bagian dari anak muda masa kini, hehehe!  Bagiku jejaring ini benar-benar membantu dalam beberapa hal, terutama dalam penguatan hubungan sosial. Lepas dari pendapat sejumlah ulama beberapa waktu lalu yang mengharamkannya. Lewat facebook aku dapat mengaitkan kembali tali silaturrahim dengan teman, atau keluarga yang lama tak kusua. Seperti senin lalu, aku menemukan jejak seorang kawan semasa SMP di kampung, setelah hampir 13 tahun tak pernah  saling tahu kabar.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;Fandy, selama sekolah kami adalah sahabat. Acapkali, di waktu “keluar main” sekolah aku dan teman-teman memilih menghabiskan waktu di rumah Fandy yang letaknya hanya 100 meter dari sekolah. Pada kami, Ia begitu terbuka. Terutama dalam berbagi ilmu. Selaku jagoan matematika di sekolah, Fandy tak pernah sungkan menuntun kami dalam belajar bersama soal rumus matematika. Juga ke dua orang tuanya. Tiap kali bertandang, ibunya selalu menyuguhi dengan pisang goreng. Sikap terbuka, dan ramah itulah yang membuatku dan beberapa teman kepincut untuk selalu bertandang. Selebihnya adalah senyum sepasang adik gadisnya yang kembar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1998, tamat dari bangku sekolah menengah pertama ,  ia dan keluarganya balik ke kampung halamannya di Padang, Sumatra. Ketika itu, ayahnya memang hanya pegawai dinas di Bandara Udara Andi Djemma, Kota Masamba mengakhiri masa kerjanya. Tepat sebulan setelah tamat. Dan, sejak itu pertemanan kami ibarat gundukan pasir ditiup angin kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku menemukan kembali jejaknya. Di FB, aku menjalin pertemanan yang telah lama raib. Bisa dipikir-pikir, berapa pahala kita dengan upaya-upaya penguatan ukhuwah melalui jejaring ini. Bukankah dalam agama diajarkan agar manusia saling jaga, mencintai, dan mengasihi. Atau, malah saling memaafkan bila sesamanya terkait salah. “Tapi, tentu semua dalam kerangka hubungan yang disyariatkan. Bagaimana akhi!?” Begitu pesan seorang teman  waktu lalu. Yah, benar itu kawan! Aku senyum mengingat-ingat kalimat itu.     &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;Kuliat daftar teman. Satu, dua, tiga! Empat puluh, yah..., ada lima puluh semuanya. Banyak temanku yang online. “Assalamualaikum Wr Wb. Hai!”, aku membuka sapaan pada seorang teman. Ia baru saja pindah dari kota ini, dan memilih jadi abdi negara di kampung halamannya. Aku sekedar ingin tahu, seperti apa kabarnya. Ini juga sekaligus menghilangkan kesan “sombong”. Kira-kira seperti itu.   “Alaikumsalam Wr Wb”, seperti menimpali , ia lekas menyapa balik. Dengan klasik, “Apa kabar?” Kembali kukirim sapa. “Baik”, katanya. Yah, itu standar dalam perbincangan lewat online. Apa kabar, selalu menjadi kalimat kedua setelah  salam. Dan, dipastikan jawaban kebanyakan akan berkata, baik. Tak luput temanku ini. “Saya dengar-dengar, bapak ini mau menikah?”. Setelah kata baik, kalimat berikutnya memang sulit ditebak. Pula pertanyaan ini.  Menikah?? Siapa yang tak mau menikah kawan. Tapi soal waktu,  entah! Aku bingung menjawab, hehehe...Sudah hampir setahun lebih membangun komunikasi dengan teman-teman jauh lewat jejaring ini. Namun tiap  perbincangan tak pernah kurang dari kalimat, “Bung! Kapan kau menikah?”.  Gubraakkk!!!&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;Hei kawan! Aku ingin mengungkap kerisauanku. Soal menikah, ketika dijejali pertanyaan, kapan? Aku acapkali ingin menjawab, “hari ini!”. Tak ada kata esok. Tapi menikah tak semudah duduk-duduk di warung kopi, atau seperti membuka facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah terbebani oleh rasa kecewa, terhadap rekap yang tak menempel tebal di Inbox emailku pada pekan ke kedua. Namun menikah membuat aku takut kecewa. Bagiku menikah lebih sulit dari sekedar menemukan kembali jejak kawan yang hilang. Menikah adalah jejak Nabi, jejak Nabi adalah jejak Tuhan. Aku tak pernah memikirkan, ingin melewati masa itu hanya dengan alasan mengakhiri masa lajang. Atau, untuk menyalurkan hasrat kelelakianku saja. Bukan, bukan! Aku butuh generasi. Pelanjut yang dapat memakmurkan bumi, bukan beban bagi bumi ini. Maka itu, aku ingin mengikuti kehendak dari Tuhan. Agar aku juga melahirkan generasi yang dikehendakiNya pula. Aku ingin menikah pula kawan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hertasning, 3 Juni 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-2040113744760625706?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/2040113744760625706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=2040113744760625706' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/2040113744760625706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/2040113744760625706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2010/06/dinding-langit-di-bagian-timur-masih.html' title='Warung Kopi, Facebook dan Menikah'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-2246705433082410096</id><published>2009-05-24T09:05:00.000-07:00</published><updated>2010-12-14T05:00:22.574-08:00</updated><title type='text'>Agh, pelik!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh, aku memahami, kita masing-masing memiliki sisi yang tak bisa dipahami oleh individu lainnya. Itulah hakikat kita diciptakanNya berbeda-beda. Karena itu pula kupahami, bahwa meski kita telah diciptakan dalam ruang yang sama, namun tak selamanya kebahagiaan itu dirasakan bersama.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sudah pasti, aku, kau, dan semuanya, ibarat hitungan matematika memiliki lingkaran masing-masing. Namun tetap memiliki persinggungan. Dalam ruang dan waktu, kau memiliki ruang lain tempat kau bisa merasakan bahagia dan sedih. Tanpa aku, kau bisa bahagia dengan lainnya. Bersama keluargamu, teman, dan sebagainya. Begitu juga aku. Meski begitu ada kepentingan yang memaksa kita untuk bertemu pada sebuah ruang bersama. Saat itulah, kita akan berbagi cerita. Mungkin, kau, juga lainnya bisa jadi mendapatkan nilai lebih di ruang lain, bisa jadi juga di tempat kita bersama.&lt;br /&gt;Aku menilai, dalam proses inilah tiap individu butuh konsistensi. Terkadang diantaranya ada yang jadi naif, dan boleh jadi adalah pecundang, pendusta, bahkan nista. Di ruang persinggungan, berwatak baik, dengan segala simbol kesucian. Namun bila di ruang lain, berbeda jauh... Aku tetap memahami itu, namun tak seluruhnya...!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-2246705433082410096?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/2246705433082410096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=2246705433082410096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/2246705433082410096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/2246705433082410096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2009/05/sungguh-aku-memahami-kita-masing-masing.html' title='Agh, pelik!'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-4663148251075700880</id><published>2009-04-19T18:20:00.000-07:00</published><updated>2010-12-14T05:05:32.239-08:00</updated><title type='text'>Perjalanan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nampaknya, hujan baru saja berlalu. Aroma tanah basah bercampur aroma laut, meruap menembus kaca mobil. Bau yang masih kukenal, khas pesisir. Perlahan, mobil yang kami tumpangi memasuki jantung kota. Rasa antuk mendera, namun aku mencoba menelisik suasana.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Setahun telah lewat, kini aku kembali. Di kota ini, nyaris tak ada yang berubah. Seluruhnya masih sama, bangunan-bangunanya. Jalan, dan tiap sudut pasar sentral yang terletak dekat alun-alun kota.&lt;br /&gt;Dulu, aku hadir di tempat ini tak lebih dari seorang pemuda minim pengetahuan, dengan frame primordial "tallu cappa", menilai diri sebagai lelaki pemberani, turunan perantau, penjelajah dan penakluk, yang acap diliputi rasa penasaran pada tiap jengkal tanah tak kukenal. Sungguh emosional. Tak puas menambat perahu di daratan ini, aku lalu melanjutkan perjalanan menuju tanah berikut. Begitu seterusnya...&lt;br /&gt;Kini, tak lagi seperti itu. Aku berpikir, perjalanan tak semata meruahkan rasa emosional, tapi sebaliknya, mereduksi itu. Perjalanan hakekatnya proses mengenal diri dan memahami keterbatasan. Ke tanah mana lagi kaki dipijakkan? Tentu, sangat penting merenungkan serta menentukan arahnya. Juga memikirkan konsekuesinya.&lt;br /&gt;Ada adigium mengatakan, kenalilah dirimu, maka niscaya kau akan mengenal "yang ada". Sungguh, tiap pijakan akan tergerus, fana, pupus oleh waktu hingga akhirnya kepadaNya-lah bermuara.&lt;br /&gt;Kisah leluhurku mungkin heroik, bahkan juga romantik, seperti pula yang lainnya di tanah ini, karena itu aku bangga. Namun, itu tak mampu melebihi sejarah bangsa Mongol di belahan bumi sana, Gengis Khan hingga ke cucunya, menguasai seperdua dunia, dan berhasil mewarnai peradaban besar. Juga kisah-kisah leluhur orang Eropa, Tanah Arab dan beribu entitas manusia lainnya. Mereka bahkan pernah menguasai tanah tempat kita berpijak kini. Itu kenyataan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Suasana kota ini, tak yang ada berubah. Di sini, senja tak pernah menghapus jejak, tapi pupus oleh bayangan gunung. Mungkin, itulah yang membuat temanku terhenyak. Ia akhirnya mengakhiri lajang, dan mengundangku menyaksikan riuh pestanya di kota ini, hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-4663148251075700880?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/4663148251075700880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=4663148251075700880' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/4663148251075700880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/4663148251075700880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2009/04/setahun-lewat-kini-aku-kembali.html' title='Perjalanan'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-4833535264345527851</id><published>2009-04-14T08:40:00.000-07:00</published><updated>2010-12-14T05:12:39.635-08:00</updated><title type='text'>Usai</title><content type='html'>aku membelai wajahmu&lt;br /&gt;hanya di jalan sunyi...&lt;br /&gt;usai malam&lt;br /&gt;kini usiaku rapuh...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-4833535264345527851?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/4833535264345527851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=4833535264345527851' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/4833535264345527851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/4833535264345527851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2009/04/aku-membelai-wajahmu-hanya-di-jalan.html' title='Usai'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-1949223012624657295</id><published>2009-03-19T11:10:00.000-07:00</published><updated>2010-12-14T05:14:27.921-08:00</updated><title type='text'>Mau Nulis Lagi...</title><content type='html'>Setelah lama tak menulis di halaman ini, sepertinya sebagian diriku telah hilang. Itu baru kusadari, setelah lama memendam&amp;nbsp; pikiran, dan kemudian terhenyak. Agh, kenapa aku tak menulis lagi. Apa yang mengungkung aku, hingga kebiasaan menoreh di blog, hilang.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada perjalanan sebelumnya, kutahu persis, satu-satunya kekuatan mendorongku menulis- meski dengan tatanan tulisan tak karuan, adalah rasa. Kekuatan itu, acap kali membuatku tak mampu mengelak, lalu mematerikan tiap yang abstrak dalam huruf-huruf beku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi paruh waktu terakhir, kepekaan hati itu juga tak menuntun tanganku untuk bisa menggores kalimat. Sebaris pun tidak. Bahkan, banyak momen penting lewat begitu saja.&lt;br /&gt;Mungkin ini saatnya memulai lagi. Setelah benar-benar kurasakan, banyak peristiwa penting, sangat penting, yang merupakan salah satu bagian dari sisi hidupku perlu diabadikan. Insya Allah, esok aku akan menulis lagi…&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-1949223012624657295?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/1949223012624657295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=1949223012624657295' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/1949223012624657295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/1949223012624657295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2009/03/mau-nulis-lagi.html' title='Mau Nulis Lagi...'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-3796749720748279770</id><published>2008-12-02T21:36:00.000-08:00</published><updated>2010-12-14T05:18:20.524-08:00</updated><title type='text'>Malam, AJI, Teater dan identitas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam telah beranjak seperdua, namun mataku tak jua terpejam. Entah, apalagi sebab yang menekuk kantukku. Aku terus dalam pusaran terang. Sementara, angin Ac itu terus mendesir, berusaha menghempas nyamuk-nyamuk ganas yang emosi dan bernafsu tuk terus menggagahi seluruh tubuhku. Ugh! Malam yang malang. Aku hanya bisa merengkuh pada ketakberdayaan melawan pekat hitam di ruang hanya beralas secarik kain gorden jendela. Harusnya, aku ke rumah malam ini. Namun telah larut.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tak seperti malam-malam kemarin, kulalui begitu pulas. Meski tak ada jalan pulang ke rumah. Namun setidaknya ada pilihan suasana untuk lepas dari jeratan gulita. Senin, malam. Aku kembali singgah di sekretariat salah satu organisasi jurnalis di kota ini. Kebetulan, seorang senior, dan beberapa wartawan televisi mau menemani melewati malam di sana.&lt;br /&gt;Kami menggelar karpet di lantai dua rumah. Bukan dalam ruangan, tepatnya di atap rumah. Ya, kami menyebutnya atap, hanya saja terbuat dari coran beton. Aah, ide yang gila. Tapi bagaimanapun, hanya itu cara menerobos waktu malam ini. "Kita orang miskin, juga harus belajar hidup bahagia," kata Kak Ahmad, salah seorang wartawan Trans Tv di Makassar, sambil lalu mengangkat Laptop milik Yunus, kontributor Metro Tv, ke lantai dua sekertariat AJI. Memang, ia yang mencetuskan ide itu.&lt;br /&gt;Kami nonton pilem, "Sometimes in April". Meski sudah pernah kunonton, namun dengan view terbuka, pilem ini tetap mengugah. Sesekali memandangi bintang, dan berseloroh tentang banyak hal. Waoww!! Meski suntuk, tapi malam yang asik.&lt;br /&gt;Juga pada malam Minggu. Seperti pula malam ini, ruang kembali ke rumah telah sesak. Tapi, ada tempat memilih membunuh waktu, di Gedung Socited de Harmonie. Kudengar dari seorang kawan, sebuah pementasan teater, kalau tidak salah bertajuk I Mangkawani, tengah berlangsung di tempat itu. Menurutnya, ceritanya bagus. Berkisah tentang hubungan cinta seorang putri raja, namun berakhir dengan tragis. Kurang lebih seperti kisah Romeo dan Juliet-lah di Eropa sana. Apalagi yang main, banyak aktor atau seniman senior pula.&lt;br /&gt;Wah, tontonan menarik. Dulu, untuk menyelingi rutinitas kuliah yang sumpek, kadang aku ke Gedung Socited menyaksikan teater. Meski tak memiliki bakat seni dan tak berniat jadi seniman, aku cukup memerhatikan dunia pementasan. Tentunya dalam batas sebagai penikmat saja.&lt;br /&gt;Kini, aku kembali singgah. Yup, benar saja. Aku menemukan gedung telah dipadati penikmat seni peran itu. Banyak mahasiswa, tak jarang berpasangan. Diantaranya, juga sempat kutemui sejumlah penulis sastra Kota Makassar. Ada juga wartawan. Entah, mereka meliput atau sama saja denganku, nonton gratis!&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Lumayan, pementasan ini cukup mendapat apresiasi. Sangat jarang suasana begitu kutemui di gedung ini. Aku tahu, sejak dulu hanya lekat dengan kesunyian. Orang-orang disini, hanya serupa malam tanpa bintang. Mereka terus menggeliat dengan peran, namun hanya berakhir pada garis malam yang sepi. Artis tanpa penggemar. Tak sadar, wajah mereka hanya menampang lusuh, terus menggurat digerogoti tembok-tembok gedung tua peninggalan Belanda. Apakah karya yang kerontang, tak menggugah, ataukah zaman memang tak memihak. Entah, aku tak sepenuhnya memahami. Namun karya mereka tetap berusaha kunikmati sebagai pengganti sepotong malam yang tercecer.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kini, aku terjebak pada malam. Lantas singgah di sebuah ruang tak berpihak. Nyamuk, angin Ac yang mengigit, dan beralas secarik kain gorden. Sedari dulu, kerap aku ke ruang ini. Memang selalu begitu. Kita dituntut hidup tak beralas. Namun, ketika itu begitu banyak simpony yang hadir bersama malam, meski hanya ditemani sebuah kipas angin butut. Aku pulas diiringi detak mesin ketik, gerutu mahasiswa membuat makalah, celoteh perlawanan dari bilik sebelah, alunan suara gitar, dan aroma kopi pekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-3796749720748279770?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/3796749720748279770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=3796749720748279770' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/3796749720748279770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/3796749720748279770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/12/malam-aji-teater-dan-identitas.html' title='Malam, AJI, Teater dan identitas'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-8688158141985775689</id><published>2008-10-29T00:43:00.001-07:00</published><updated>2008-10-30T03:06:50.943-07:00</updated><title type='text'>Suara Suling Jerami</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hujan tengah rintik, pada sore redup ini Aku kembali meresapi suaramu. Tak henti seperti air hujan yang jatuh tak berjedah. Aku merasai seperti suling jerami yang ditiup gadis-gadis desa di tebing-tebing bukit saat panen. Suaranya, bertiup dibawa angin gunung ke ngarai pada pagi. Nadanya sendu, sejuk, basah oleh embun yang bergelantungan pada daun-daun pakis. Lalu, meresap pada setiap ubun-ubun lelaki desa di bawah lembah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tahukah, tiupan suling jerami itu adalah tanda, seiring musim panen gadis-gadis desa di atas bukit juga tlah bertumbuh dewasa. Karena itu, mereka meniup suling jerami yang dililit daun nyiur, agar suaranya dapat membelah belantara hutan bambu, hingga ke ngarai-ngarai. Penuh harap, semoga ada lelaki baik yang rela menyambangi rumahnya saat pesta panen digelar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-8688158141985775689?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/8688158141985775689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=8688158141985775689' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/8688158141985775689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/8688158141985775689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/10/hujan-tengah-rintik-pada-sore-redup-ini.html' title='Suara Suling Jerami'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-983655250803725567</id><published>2008-10-21T00:58:00.001-07:00</published><updated>2008-10-30T03:10:49.209-07:00</updated><title type='text'>DOKTRIN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Haru sedikit bercampur bangga, aku mendapat undangan dengan nama yang dibelakangya dibubuhi embel-embel S.IP....Kalau kuingat-ingat, rasanya baru kali ini namaku dibelakangnya ditambah tiga abjad yang dijedahi satu titik tersebut. Ehm, setelah enam tahun kuliah akhirnya ada juga yang mengingatku dengan gelar sarjana ilmu politik itu. Sayang, hingga kini ijasah itu masih sebatas jadi barang antik yang tersimpa apik dalam lemariku, hehehehehehe. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Adalah adik-adik dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, yang melayangkan undangan lewat short message dengan permintaan, turut "ambil jatah" dalam penutupan perkaderan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan Tahun 2008. Maksudnya, agar aku bisa memberikan doktrinasi terhadap mahasiswa baru tersebut di sela-sela ceremony penutupan di lapangan Fisip. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Awalnya senang, karena diundang dengan embel-embel gelar. Eh, sekarang aku agak "menggigil". Doktrinasi??? Waktu aktif di lembaga mahasiswa dulu, kata itu yang kuhindari. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam hematku, sebagai lembaga yang tak berbasis ideologis, konsep doktrinasi sejatinya tak menjadi metode dalam rekrutmen keanggotaan. Aku lebih menganggapnya sebagai bentuk upaya penseragaman berpikir, dan merupakan hegemoni. Jadi meski, kekerasan fisik telah hilang dalam penerimaan mahasiswa baru, namun kekerasan lain masih tetap ada, yaitu memaksakan fram berpikir dalam kerangka yang sama. Jika begitu, maka pasti tak akan ada lagi dialektika. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sudah hakekatnya, dalam setiap entitas kehidupan manusia, nilai selalu ada. Menurutku, pada titik itulah yang akan mempertemukan kita pada konsepsi yang sama, dan sekaligus juga memetakan kita pada ruang berbeda. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada lembaga kampus, setiap kita menjunjung tingga nilai. Namun tak harus sama di dalamnya. Pada wilayah tertentu, ada kalanya mahasiswa sama-sama turun ke jalan karena masalah yang dihadapi sama, dan ada kalanya tidak. Itulah lembaga mahasiswa. Ia harus mengakomodasi segala bentuk perbedaan di kalangannya, agar meski berbeda namun tetap satu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Berbeda pada lembaga ideologis, di sana selalu ada satu kerangka yang dianggap solusi hidup. Ia adalah keyakinan tanpa materi, transenden. Karena itu doktrinasi berjalan pada bentuknya tanpa meski dipaksakan-meski pada soal metode, juga kerap terjadi pemaksaan. Tuhan memberikan dua jalan, baik atau buruk. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kita selalu dianjurkan untuk berjalan pada kebaikan. Bagaimana agar baik? Maka taatilah tata nilai yang berlaku pada agama anda. Dalam segala hal, termasuk pendidikan. Juga ada meteode yang digunakan. Umumnya dalam lembaga ini dikenal adanya unsur pembebasan. Seperti yang diungkapkan pakar Teologi kenamaan, Faulo Freire bahwa nilai ketuhanan akan membebaskan setiap manusia dari ketidakadilan yang terbangun lewat pendidikan formal tersktruktural.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Nah, pada lembaga mahasiswa, kerangka tetap ada, namun lebih akomodatif. Susah memang. Karena itu bila bicara soal kemahasiswaan, apalagi doktrinasi, aku kerap menganggap tidak kapabel untuk itu. Aku hanya berpikir, biarkanlah mahasiswa-mahasiswa baru itu berjalan pada tata nilai yang diyakini, dan beranjak masuk ke lembaga mahasiswa dalam persepektif masing-masing. Kelak, mereka dengan sendirinya akan terikat pada tatanan lembaga itu. Karena pada langit-langit lembaga mahasiswa, selalu menggelayut beribu cita-cita, impian dan harapan. Tidakkah sebaiknya kita cukup membangun komitmen dan konsistensi bersama.........&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-983655250803725567?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/983655250803725567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=983655250803725567' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/983655250803725567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/983655250803725567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/10/doktrin.html' title='DOKTRIN'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-4800322231582815214</id><published>2008-10-19T07:46:00.000-07:00</published><updated>2008-10-27T22:33:35.077-07:00</updated><title type='text'>Ke Tope Jawa</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:lucida grande;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Akhir pekan pertengahan bulan ini, aku memilih meliburkan diri dari pekerjaan, dan memilih memenuhi undangan adik-adik di identitas Universitas Hasanuddin berlibur ke Kabupaten Takalar. Di sebuah pantai bernama Tope Jawa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="FONT-FAMILY: webdings; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:lucida grande;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Sabtu malam, tepatnya kami berangkat ke lokasi wisata yang berada di bagian utara Kota Takalar itu. Rupanya, lokasinya lumayan jauh. Untuk kesana, harus menempuh waktu kurang lebih satu jam lebih, dengan kendaraan roda dua alias motor. Bukan sepeda, ya! Rasa-rasanya, bila diukur, jaraknya lebih dekat ke perbatasan Kabupaten Jeneponto dibanding dari Kota Takalar sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Pemandangannya biasa-biasa saja. Kondisi pantai, serta tetek bengek yang ada tak lebih baik dibanding Pantai Tanjung Bayang di Kota Makassar. Hanya saja bagi penikmat ikan bakar, di tempat itu, sangat mudah mendapatkan ikan untuk bahan santapan. Pasalnya, banyak nelayan yang pulang melaut kerap menjual langsung ikan kepada pengunjung. Selain itu, suasananya juga lebih tenang. Tak banyak orang yang berkunjung. Mungkin karena hari Sabtu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:webdings;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Di sana, Aku sempat menyambangi rumah teman seangkatan waktu masih aktif di identitas. Namanya Amiruddin. Kami, kawan-kawannya dulu, lebih kerap memanggilnya Rano, hanya karena salah seorang senior pernah menyebut pria asli Takalar tersebut mirip Rano Karno, artis kondang jaman dulu. Tapi, di rumahnya, aku mendengar ia dipanggil Daeng Gassing-Wah, ingat tukang becak di Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski singkat, sungguh banyak kesan Di sana, aku sempat diskusi dengan kakek Daeng Gassing yang sudah berusia 85 tahun. Aku takjub dengan kakek yang dulu melalui hidupnya jadi guru di beberapa sekolah agama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk seusianya, kondisi fisik mantan guru ini masih cukup kuat. Daya ingatnya juga cukup baik. Ia hanya memiliki gangguan pada pendengaran. Jadi, kalau bicara dengannya, meski sedikit teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara terbata, kakek Daeng Gassing, menyampaikan petuah, bahwa sebagai orang terdidik, meski mengetahui hakekat dari pendidikan itu, yaitu senantiasa tak lepas dari nilai-nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, dengan usia yang se-senja itu, kondisinya tetap prima untuk se-samannya karena menjalani hidup, selalu bergerak, mencoba meruahkan kemampuan bekerja sesuai tata nilai. Ia memahami pendidikan pada substansi. Menurutnya, substansi pendidikan dipahami ketika kita telah berjalan pada tata nilai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada pendidikan kaki, pendidikan tangan, pendidikan mulut", ungkapnya. "Pendidikan benar telah dipahami ketika kaki berjalan pada jalan lurus, tangan bergerak dan mengerjakan yang baik, dan mulut berbicara kebenaran", jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:webdings;" &gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Di Tope Jawa, tak banyak kesan yang aku dapat. Terkecuali, hanya masuk angin, lelah begadang mengikuti rapat evaluasi yang digelar adik-adik identitas dalam rangka pembenahan keredaksian di tabloid kampus tersebut, hingga subuh.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Meski begitu, aku tetap merasakan ada kesan bermakna. Suasana rapat evaluasi berlangsung penuh semangat kekeluargaan, toleransi yang tinggi, dan tak lepas dari candaan membuat aku banyak menyadari akan pentingnya saling menghargai, memahami lebih jauh arti persaudaraan, dan sebagainya. Terlebih setelah menyimak wejangangan dari kakek Daeng Gassing..........&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-4800322231582815214?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/4800322231582815214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=4800322231582815214' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/4800322231582815214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/4800322231582815214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/10/ke-tope-jawa.html' title='Ke Tope Jawa'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-8959154608962182851</id><published>2008-10-16T06:54:00.000-07:00</published><updated>2008-10-23T04:44:31.035-07:00</updated><title type='text'>Kampanye</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:lucida grande;" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dua hari terakhir, aku terus digelimangi seribu janji. Tentang hidup yang ideal, dari keterpenuhan sandang, pangan, dan papan, hingga bahkan yang lux. Rasanya, sekejap seperti berada pada sebuah zaman dimana retorika baru saja berkembang menjadi sebuah kebiasaan sosial. Seperti yang terjadi di Pulau Sicilia, Yunani kurang lebih 465 sebelum masehi lalu. Bedanya, menurut sejarah yang tertera pada teks-teks buku retorika modern, orang-orang ketika itu beretorika, membuat pengaruh agar hak mereka dapat dipertahankan di pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dua hari ini, orang-orang beretorika untuk membangun hegemoni, agar dapat terpilih jadi walikota. Tak penting, bagaimana caranya, halal atau tidak. Tak heran, dalam konsep metode kampanye politik, di bangku-bangku akademi, kerap kita kenal dengan isitilah, buatlah janji sebanyak-banyaknya. Sayangnya, mereka yang gegap gempita teriak di bawah panggung tak memahami itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meki begitu, aku tak protes, tapi melainkan hanya terus jadi pendengar. Harapnya, mungkin aku bisa jadi penyaksi. Kali saja kelak aku bisa jadi tokoh pengungkap tentang seabrek kalimat harap yang terlontar dari panggung politik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center;font-family:lucida grande;" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:lucida grande;" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dua hari terakhir, dari atas panggung, aku terus menelisik wajah-wajah simpatisan kampanye politik kandidat Walikota Makassar. Tepatnya di lapangan Hertasning, Jalan Toddopuli Raya, aku kemudian terus memikirkan, sungguh besar harapan orang-orang ini, tak kenal panas menunggu, dan pada akhirnya merasa puas dengan janji-janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-8959154608962182851?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/8959154608962182851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=8959154608962182851' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/8959154608962182851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/8959154608962182851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/10/dua-hari-terakhir-aku-terus-digelimangi.html' title='Kampanye'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-4403172020967969041</id><published>2008-10-13T07:20:00.001-07:00</published><updated>2008-10-15T00:09:38.738-07:00</updated><title type='text'>SAHAJA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bersendalah diantara ceruk bebatuan alam itu, saat senja menukik ke tepi langit&lt;br /&gt;Lalu padi-padi di hamparan sawah nan luas pada lembah bukit-bukit mulai bunting&lt;br /&gt;Pucuknya rekah, lalu bulir-bulirnya mekar menembus dingin berkebat di tanah orang desa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bersendalah diantara jejak-jejak penyadap tuak saat subuh masih hening&lt;br /&gt;Lalu punai-punai di belantara pepohonan mengicau ketika halimun masih putih&lt;br /&gt;Suaranya pecah pada bebatuan kali yang menggigil, lalu ke muara diseret arus &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bercintalah ketika petani telah siap menyemai takdirnya&lt;br /&gt;dari bulir-bulir padi yang menghampar&lt;br /&gt;Sebab, bila tidak maka panen akan gagal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jadi orang terusir dari tanah kelahiran&lt;br /&gt;"DiTalli" tak akan pulang sebelum ditimpakan petaka&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bercintalah ketika musim tlah berganti&lt;br /&gt;dimana hanya tinggal remah-remah bulir padi saja yang berterbangan&lt;br /&gt;memenuhi jalan desa, serta aroma jerami terbakar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jadi suci diantara gelagah melambai&lt;br /&gt;bersahaja seperti embun bening pada daun menangkup&lt;br /&gt;Meski, pada suatu waktu matamu tlah enggan menatapku..................&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Tamalanrea 13 Oktober 2008&lt;br /&gt;Saat lelah, usai meliput kampanye politik salah satu kandidat Walikota Makassar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-4403172020967969041?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/4403172020967969041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=4403172020967969041' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/4403172020967969041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/4403172020967969041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/10/bersendalah-diantara-ceruk-bebatuan_13.html' title='SAHAJA'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-299926315797283788</id><published>2008-09-13T22:49:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T07:27:13.513-07:00</updated><title type='text'>PEMULUNG TPA</title><content type='html'>Aku pikir, dalam seni siapa saja bisa mengapresiasikan apa yang dimiliki dalam bentuk karya apapun. Termasuk dalam puisi. Di satu sudut kota ini, aku belajar menulis;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutelisik wajah suram yang terkulai di antara remah kota ini&lt;br /&gt;Mengais hidup dari kubangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelimang keringatnya mengucur&lt;br /&gt;Mengalir antara garis-garis usia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tubuh ringkih&lt;br /&gt;Lalu serap, secarik kain kumal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gancu itu menghujam, membunuh waktu&lt;br /&gt;Memburai, mengubur senja dengan harap;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok, saat pagi masih remang&lt;br /&gt;Hidup kita akan berlanjut&lt;br /&gt;Memulung meski tenggelam&lt;br /&gt;dibelantara kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TPA Antang, 14 September 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-299926315797283788?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/299926315797283788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=299926315797283788' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/299926315797283788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/299926315797283788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/09/aku-pikir-dalam-seni-siapa-saja-bisa.html' title='PEMULUNG TPA'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-1103972167612505122</id><published>2008-09-05T07:52:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T07:45:54.145-07:00</updated><title type='text'>RAZIA GEPENG</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Suatu siang di sudut jalan dekat salah satu mall besar Kota Makassar, sederet mobil ragam merk melintas di hadapanku. Dari mobil deretan paling depan, tepatnya dari atap mobil tersebut, sesekali memekik suara menghimbau lewat Toa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sengaja kutunggui mobil ini. Bukan bermaksud apa-apa, mau numpang atau semacamnya. Kebetulan beberapa jam sebelumnya, terlontar suara perintah untukku lewat telepon; meliput razia gepeng oleh salah satu dinas.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dan, itulah mereka. Datang dengan mobil berderet-deret. Beberapa diantaranya dibentangi spanduk disisinya. Tulisannya kulupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meliput razia gepeng? Tiba-tiba saja pertenayaan menyeru itu muncul dalam benakku. Ah, tidak jadi. Aku balik kanan saja. Persetan! Mereka hanya ingin tenar, mendapat harga dari sesamanya, bahwa telah sukses menangani penyakit sosial, yaitu gelandangan. Aku lebih melihatnya sebagai satu tindakan "genosida" terhadap kaum miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Mengapa kemiskinan harus dicaci, katanya buah dari rasa malas oleh orang-orang yang tak memiliki ikhtiar alias gelandangan. Mengapa pula setiap wanita-wanita berbaju kumal, bocah-bocah dekil di tepi-tepi jalan itu harus disingkirkan, digilas dari pandangan manusia-manusia, dari sebuah entitas yang namanya peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah mereka bagian dari peradaban ini, meski dalam konteksnya adalah sampah. Kadang aku tak mengerti, diantara kita masih ada saja menzalimi, menghukum sesama yang kebetulan tidak beruntung dalam hidup. Bersukurlah, bila itu datangnya dari Tuhan. Karena kita cukup menghitungnya sebagai nasib, atau semacamnya.Tapi, bagaimana bila justru mereka miskin disebabkan oleh sesuatu selain Tuhan, namun tetap berada di luar konteks kediriannya. Semacam sebuah tatanan sistim kehidupan bangsa. Haruskah orang dimiskinkan tetap kita "maki"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat saat VOC masih menguasai daratan dan lautan nusantara, dan dikerangkengnya tatanan hidup manusia di dalamnya di bawah entitas Hindia Belanda. Hingga akhir abad 19, atau jelang abad 20. Masyarakat di nusantara hidup dalam kebodohan. Tentu saja, dalam perperspektif tantanan kolonial, Hindia Belanda itu. Bagaimana tidak masyarakat tidak bodoh, kurang lebih 300 tahun lebih lamanya, kaum pribumi diikat dalam sistim penindasan terstruktur alias dijajah. Tak ada celah bagi mereka untuk keluar dar tatanan sistim cocok tanam yang dibuat untuk kepentingan VOC. Akhirnya, watak pribumi dalam konteks tatanan Hindia Belanda tak ubahnya sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung politik etis datang, meski sebenarnya sistim dibawanya, menitikberatkan pada tatapola hidup, dengan takaran dunia eropa yang sekian abad peradabannya lebih maju. Sehingga, kemajuan pola pikir kalangan pribumi yang mulai terpelajar masih tertekuk sistim Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam kajian sosial, ekonomi, politik dan budaya sebuah bangsa, dikenal tiga faktor penyebab terciptanya kemiskinan rakyat. Pertama, rakyat miskin karena alam, atau miskin natural. Kedua, rakyat miskin disebabkan kungkungan doktrin budaya, atau miskin secara kultural, dan ketiga rakyat miskin karena struktur, atau kerap kita kenal dengan istilah miskin structural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miskin secara natural lebih pada masalah sumber daya alam yang memagari keinginan manusia untuk mendapatkan kehidupan yang layak pada negeri, tempatnya berpijak. Tanah yang tandus, tanpa sumber air memadai, menyebabkan manusia tak dapat berbuat banyak untuk mengatasi persoalan hidupnya, khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan secara ekonomi. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sudah tentu, sebuah negeri, daerah, kampung yang tidak ditopang oleh pasokan kebutuhan hidup yang baik, maka masyarakat di dalamnya, hidup berkutat pada soal, bagaimana memenuhi kebutuhannya itu, bagaimana mereka bisa mendapat secuil nasi, untuk makan esok hari, dimanakah mereka akan mendapatkan air untuk menanak nasi. Akhirnya, terjadi siklus hidup yang stagnan pada masalah yang sama. Mereka tak pernah punya waktu lagi memikirkan, bagaimana agar anak mereka bisa bersekolah.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Itulah kemiskinan pertama, tentu saja butuh pemakluman. Demikian juga dengan miskin natural, yang kurang lebih dipengaruhi nilai budaya. &lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Budaya yang lahir sebagai kesepakatan bersama oleh entitas bangsa, tentu saja memiliki kekuatan hegemonik. Kenyataannya, pada titik tertentu, kerap budaya membunuh kreatifitas hidup maju. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Ibarat dua sisi mata uang, kedua bentuk kemiskinan di atas saling bertalian. Dan, uang itu sendiri adalah kemiskinan struktural. Pada akhirnya segalanya bermuara pada kemiskinan ini. &lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Negara lewat mesin-mesin kekuasaannya, dengan mudah membentuk sebuah tatanan sistim sesuai visi pemimpin negara. Arah kebijakan kehidupan negara, melalui segala aspek tiba-tiba saja dipaksakan agar berbasis industri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tentu saja, rakyat kaget. Mereka yang sebelumnya berada dalam taraf hidup sederhana sebagai petani di desa-desa, tiba-tiba saja berubah pikir dan memilih datang ke kota-kota. Tentu saja dengan iming-iming, akan jadi masyarakat modern, sawah tak jaman lagi dijadikan sumber penghidupan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tak ada orang di muka bumi, atau di negeri yang bernama &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ini yang menerima kenyataan hidupnya untuk jadi orang miskin. Tak satu pun. Melainkan sistimlah yang menjerumuskan, memiskinkan rakyatnya. Maka, tak perlu kita mencaci, dan menistakan kaum miskin, kaum terpinggirkan, kaum mustada’fin…………………………………………….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-1103972167612505122?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/1103972167612505122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=1103972167612505122' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/1103972167612505122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/1103972167612505122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/09/suatu-siang-di-sudut-jalan-dekat-salah.html' title='RAZIA GEPENG'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-1647014515067746779</id><published>2008-09-01T23:06:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T00:10:22.012-07:00</updated><title type='text'>Rindu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak dulu, seiring detak jantungku yang tak berjedah, nyaris separuh ruang di kepalaku tlah kunisbahkan untuk rasa rindu; rasa rindu  pada kampung halaman. Ada-ada saja yang memantik rasa itu, hingga kembali hadir. Seperti itu terus bergulir, mengikuti alur waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan kali ini, rindu itu kembali memuncak. Seperti ingin buncah. Dan, dua malam lalu, sebelum hari kedua sholat taraweh malam ini, aku sempat bermimpi bertemu ayah. Kurasakan kehadirannya mengingatkan untuk pulang, menengok bunda, abang, dan adik perempuanku yang seorang, dan menzirahi pusaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, di tengah lamunan saat sedang duduk di tepi sebuah jalan protokol di kota ini, selintas juga kuingat, bulan lalu lewat telepon bunda sempat berpesan, agar hari pertama Ramadhan, aku harus pulang untuk sekadar membuka puasa bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun sebelumnya, terlebih lagi waktu masih kuliahan dulu, berpuasa hari pertama di kampung memang sudah jadi program tetapku. Tapi, kali ini rutinitas itu mulai putus. Tuntutan tanggung jawab, sebagai pewarta di sebuah media elektronik sedikit memaksaku agar tidak beranjak dari kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, jika ditilik, atau mungkin menurut hemat sebagian orang yang melakoni aktifitas seperti aku, pulang kampung sewaktu-waktu bisa saja dilakukan. Terlebih lagi, statusku bukanlah selaku karyawan tetap di media itu. Aku digaji sesuai jerih payahku membuat berita hasil liputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagiku, bekerja pada media, tak terbatas pada status. Lebih dari itu, menurutku. Ada substansi dibaliknya yang sebenarnya diemban. Karena itu, aku berpikir bahwa pulang kampung kini harus diproporsionalkan. Tak lagi semau-maunya. Ada saatnya nanti, kalimat "pamit" pasti kuruahkan. Ntah, sebagai tanda pasrah, pulang, atau hanya menegaskan, bahwa aku sudah lelah jadi orang terkutuk, yang selalu melihat sisi lain dari kehidupan, nasib bangsaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Duh, siapa pula yang memutar lagu Dik Doank itu di sebelah sana. &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kenangan terentang bagai lukisan terpanjang,&lt;br /&gt;Tak pernah bertepi selalu ada dan menggoda,&lt;br /&gt;Bagai terurai di relung hati,&lt;br /&gt;Dan takkan kutahan sekarang aku harus pulang,&lt;br /&gt;Aku rindu ibu, wibawa ayah dan suasana yang ada.&lt;br /&gt;Yang pernah singgah.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedengarannya lamat-lamat, namun seperti mememerah air mata. Agh! aku ingin pulang, dan mengulik senja di atas bukit dekat rumah.....!!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-1647014515067746779?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/1647014515067746779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=1647014515067746779' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/1647014515067746779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/1647014515067746779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/09/rindu.html' title='Rindu'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-4885243145987115400</id><published>2008-08-20T01:37:00.000-07:00</published><updated>2008-08-20T22:49:29.063-07:00</updated><title type='text'>Euforia Politik 2009</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tahun 2009 tak lama lagi. Tinggal menghitung beberapa bulan saja. Dari pusat kota seperti Makassar, hingga ke tingkat kabupaten, dari petani, kaum terpelajar, kalangan tua, hingga kaum muda, digerogoti euforia politik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal lagi, sebagian besar dari kalangan tersebut sibuk mengunjuk diri berebut posisi di tubuh-tubuh partai. Tujuannya!? Tentu saja, jadi calon legislatif, memburu kursi di gedung dewan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang melarang, atau membatasi. Negara kita berdiri di atas asas demokrasi konstitusional. Dan, kini proses menuju konsesus bangsa itu sedang berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, di tengah situasi bangsa yang terpuruk secara sosial ekonomi, sangat penting untuk kembali menilik apa latar dibalik munculnya niat oleh banyak orang menjadi wakil rakyat di gedung dewan. Ini fenomena, yang tentu saja bisa lahir karena tumbuhnya kesadaran politik warga bangsa untuk menjadi bagian dari proses demokrasi yang tengah berlangsung. Namun, bisa juga merupakan salah satu bentuk shock kultur.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya sistim multipartai yang digulirkan pasca reformasi sebagaimana yang kini dianut dalam sistim berdemokrasi di Indonesia, telah menciptakan kekagetan dalam masyarakat kita. Dulu, legislatif dipandang sebagai lembaga terhormat, hanya dapat diisi orang-orang tertentu, sesuai titah penguasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, setelah reformasi merubah segalanya, kran kebebasan tebuka lebar dalam segala lini kehidupan berbangsa. Tak terkecuali dalam bidang politik pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengok saja, pencalegan menghadapi Pemilu 2009 oleh parta-partai politik pada medio 2008 ini. Orang-orang berlomba mengunjuk diri agar namanya masuk dalam salah satu nomor urut caleg partai politik tertentu. Banyak yang tak tahu diri, tak mengukur kapasitasnya, baik secara intelektual, fisik, maupun secara kejiwaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di daerah, hanya karena partai memberi ruang, tak kenal petani, peladang, pengusaha, birokrat, maju serampangan. Bukan karena semangat demokrasi yang mendorong, namun banyak yang maju . Belum lagi kultur Opu dan Andi masih sangat lekat. Tidak profesionalnya partai dalam mengelolah manajemen sumber daya manusia, ditengarai adalah penyebab dibalik ambruknya tatanan politik di daerah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Kota Makassar juga demikian, malah ada yang satu keluarga jadi caleg lewat satu partai. Ada apa ini? Tentu saja hal ini menyisakan tanda tanya besar. Apakah partai telah melakoni fungsinya secara profesional yang berlandaskan di atas kesadaran membangun bangsa, ataukah sekadar jadi alat legitimasi bagi kelompok tertentu saja untuk menaikkan prestise. Benarkah masyarakat kita dengan menyadari substansi kehadirannya dalam kancah perpolitikan menuju kursi legislatif.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Inilah euporia Pemilu 2009. Jika DPRD hanya diisi kakak beradik, sepupu, atau suami istri, bisa dibayangkan, seperti apa jadinya negara kita 10 tahun ke depan…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-4885243145987115400?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/4885243145987115400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=4885243145987115400' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/4885243145987115400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/4885243145987115400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/08/euforia-politik-2009_20.html' title='Euforia Politik 2009'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-2280350995725655501</id><published>2008-08-19T21:50:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T21:58:43.763-07:00</updated><title type='text'>Ini Bukan Akhir Kawan!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKujjUxtK5I/AAAAAAAAACg/Tultgiah4T4/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236458819016272786" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKujjUxtK5I/AAAAAAAAACg/Tultgiah4T4/s200/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Kembali kutegaskan, agar kau tak sangsi. Jangan pernah mengartikan kepergian itu sebuah akhir. Sesungguhnya itu adalah bagian dari perjalanan, proses menuju kepastian hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tak banyak orang percaya pada jarak. Termasuk aku. Tapi, disisi lain, aku tak pernah merasa jarak akan membekuk keyakinanku, rasa optimis dalam hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu saling menyalahkan, dan terjebak dalam tangis. Selagi masih ada harap. Tentu senantiasa ada doa, serta ikhtiar. Meski kita manusia, hanya bisa berencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf aku lupa, khilaf, tak mengiringi di sore mulai temaram itu. Namun, aku harap doaku dapat mewakilkan. Semoga Ilahi senantiasa merahmati. Belajarlah dengan penuh suka cita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oya, Marhaban ya Ramadhan……Marhaban ya Ramadhan………Marhaban ya Ramadhan…… Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin…..&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-2280350995725655501?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/2280350995725655501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=2280350995725655501' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/2280350995725655501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/2280350995725655501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/08/ini-bukan-akhir-kawan.html' title='Ini Bukan Akhir Kawan!'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKujjUxtK5I/AAAAAAAAACg/Tultgiah4T4/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-6062695754363597076</id><published>2008-08-18T08:16:00.000-07:00</published><updated>2008-08-18T08:44:28.477-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ada pengunjung tenggelam di pantai Tanjung Bunga!!!!!!" Tengah&lt;br /&gt;di Pettarani......Brurr....Brurr....Brurr.....&lt;br /&gt;Brrrrrn!! Bruuuuuuuuuuuuuum................brum....brum...10kali......&lt;br /&gt;Bruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuummm dst........@#@$@$@#!$@$@%@%....zizag...zag...zi...zag.....syurrrrrrr....&lt;br /&gt;bruuuuummmm....zig...zag....zig....nyiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit!!!!!! Huh....nyarisssss!!!bruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuummmmmm............&lt;br /&gt;nyiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit! Huh....hah.....wusssssssssssssssssssssssss.......wuiiiiiiiiiiih.....&lt;br /&gt;haaaaaaah......hah...hah!Tiba juga.................tilililililililililililililililit!!!!!  "&lt;br /&gt;Kak,maaf tadi seniorku bercandaJi, katanyamerekacuma latihan saja&lt;br /&gt;di Tanjung Bunga..........tuiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiNGGGG!!!!!!!&lt;br /&gt;#$@$$@@!@?@$#@#!$@#@%$!#@&lt;br /&gt;............Aaaaaaaagh!!! Tadi smsnya, ada orang tenggelam.......&lt;br /&gt;dah tiba malah cuma latihan!!!! Hahahahahahahahaha! Balik kanan, agh..........&lt;br /&gt;tadi sich rasanya dekat aja....lah kok sekarang pulangnya terasa jauh....&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-6062695754363597076?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/6062695754363597076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=6062695754363597076' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/6062695754363597076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/6062695754363597076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/08/ada-pengunjung-tenggelam-di-pantai.html' title=''/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-5073363216001563978</id><published>2008-08-14T01:51:00.000-07:00</published><updated>2008-08-20T23:01:35.788-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKP7-QspE-I/AAAAAAAAACA/8WVNbm86L28/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234304238987318242" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKP7-QspE-I/AAAAAAAAACA/8WVNbm86L28/s200/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Di malam-malam yang tidak ada lagi suara, ketika segala yang bergerak menjadi diam, ketika hati jauh dari hiruk pikuk kehidupan yang congkak. Itu adalah saat-saat terindah untuk bersimpuh kepada Allah SWT. Saat yang tepat untuk mendidik jiwa ke puncak kejujurannya, bahwa ternyata kita bukan apa-apa. &lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih demikian sms salah seorang kawan di malam beranjak subuh itu. Seketika membuatku terjaga. Jiwaku cukup terengkuh kalimat-kalimat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kupikir, mungkin sudah begitu kenyang kau dengan ayat-ayat Al Quraan yang indah-indah. Ataukah risalah-risalah Rasulullah, para pendahulu-pendahulu kita. Hingga dari sudut keterbatasanku, sekejap itu aku menyadari eksitensi Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kembali, kepalaku menyesak bayangan kematian. Segala ada pada kehendakNya. Kita memang bukan apa-apa kawan! Tak lebih dari seonggok tanah tandus nan berdebu. Cukup hitung saja tepi gelap yang lamat-lamat terang itu, ataukah temaram warna jingga di tepi langit yang segera digerayangi gulita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bisa jadi detik berikut, jam, besok, lusa, kita akan mati. Terimakasih kawan, telah senantiasa mengingatkan waktu, menerangkan jalan menuju rahmatNya.    &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-5073363216001563978?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/5073363216001563978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=5073363216001563978' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/5073363216001563978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/5073363216001563978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/08/di-malam-malam-yang-tidak-ada-lagi.html' title=''/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKP7-QspE-I/AAAAAAAAACA/8WVNbm86L28/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-9037195513380560311</id><published>2008-08-11T01:14:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T02:40:25.868-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKP9dgrza5I/AAAAAAAAACI/WaR7SdygfJs/s1600-h/PCA4LQW9PCAKTAPA2CAYWVNKOCAVNKW0YCAPPPJUPCAR4OTIXCAX7MKP7CA78Y7UECAF5TDBACA6U6BDGCAKV0JMXCA30NLMBCA82DIQGCAFE22SZCAU2SVTQCA5J88LECADAL3OFCAHNWR2NCAAFF0PK.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234305875366341522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKP9dgrza5I/AAAAAAAAACI/WaR7SdygfJs/s200/PCA4LQW9PCAKTAPA2CAYWVNKOCAVNKW0YCAPPPJUPCAR4OTIXCAX7MKP7CA78Y7UECAF5TDBACA6U6BDGCAKV0JMXCA30NLMBCA82DIQGCAFE22SZCAU2SVTQCA5J88LECADAL3OFCAHNWR2NCAAFF0PK.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ingin kumenulis sesuatu yang bermakna, tapi rasanya, lelah telah terlanjur menyemuti seluruh tubuhku kali ini. Pada akhirnya, seperti hari-hari kemarin, aku menyerah pada kebuntuan dan sekadar memandangi blogku. Sempat juga iseng-iseng, menulis beberapa bait puisi. Begini aku tulis;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali berada di sudut ruang ini, pada sore yang memupus usia. Lagi, menorehkan seutas kalimat di atas lembaran-lembaran kertas temaram.&lt;br /&gt;Mencoba abadi dalam abjad-abjad.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 Agustus 2008, di Warnet Patria&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-9037195513380560311?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/9037195513380560311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=9037195513380560311' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/9037195513380560311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/9037195513380560311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/08/ingin-kumenulis-sesuatu-yang-bermakna.html' title=''/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKP9dgrza5I/AAAAAAAAACI/WaR7SdygfJs/s72-c/PCA4LQW9PCAKTAPA2CAYWVNKOCAVNKW0YCAPPPJUPCAR4OTIXCAX7MKP7CA78Y7UECAF5TDBACA6U6BDGCAKV0JMXCA30NLMBCA82DIQGCAFE22SZCAU2SVTQCA5J88LECADAL3OFCAHNWR2NCAAFF0PK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-8016723367002381048</id><published>2008-07-18T05:43:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T02:43:48.475-07:00</updated><title type='text'>Yup, Masuk Kampus Lagi!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKP-EPtsxwI/AAAAAAAAACQ/viXAMFGWZDs/s1600-h/LCAIGOW1XCAYDOQA7CA20HJUUCAZXTWJDCAUEJ41ZCA52NSR4CAW79F2CCAHTMMFRCADZHX8RCAOE9P12CA7DC1Y5CAHUQ7X5CAMJA2E1CAWU4YY8CAY8B97SCA3X6RY6CAX1CZETCAAV4SVYCAUH3917.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234306540825790210" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKP-EPtsxwI/AAAAAAAAACQ/viXAMFGWZDs/s200/LCAIGOW1XCAYDOQA7CA20HJUUCAZXTWJDCAUEJ41ZCA52NSR4CAW79F2CCAHTMMFRCADZHX8RCAOE9P12CA7DC1Y5CAHUQ7X5CAMJA2E1CAWU4YY8CAY8B97SCA3X6RY6CAX1CZETCAAV4SVYCAUH3917.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada pekan ini, tiga hari hanya kulalui sia-sia. Tak ada liputan. Rasanya setiap hari hanya makan angin, naik motor menyambangi setiap sudut pemukiman kumuh di kota ini. Setelah itu, kembali pula ke Warkop Anas, duduk-duduk, celoteh, lalu tak terasa waktu pupus, dan usiapun menguap. Huh...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini aku memilik masuk kampus saja. Di tempat ini, aku selalu bahagia. Banyak tawa di sana. Lagi pula, sudah sepekan rutinitasku yang satu ini putus. Yup, aku harus menyambungnya lagi, menandangi sekretariat kawan-kawan di identitas Unhas, diskusi tentang apa saja, nonton baring, curhat, ataukah meruahkan kesumpekan dengan mencela adik-adik magang. Yah, aktivitas ini sepertinya membuatku meringankan sedikit beban hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan, bergaul dengan anak-anak muda selalu membuat hidup lebih muda. Adigium itu, nampaknya benar-benar telah kuaplikasikan dengan baik. Kampus selalu dinamis dan dialektis. Ragam frame berpikir di dalamnya, bebas, bahkan terkadang tak berbatas. Hanya di kampus aku bisa mendengar bahasa, "banyak jalan menuju surga". Sungguh-sungguh merdeka. Namun orang-orang di dalamnya tetap sadar, dalam pengetahuan ada episteme, aksiologi, serta ontologi. Sehingga, wacana tak pernah melesak, seperit anak panah lepas dari busurnya. Orang-orang juga tetap mengagungkan Allah Swt, dan meneladani Rasul-Nya dengan caranya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bermaksud menghabiskan usia di kampus. Namun aku merasa, di tempat ini aku bisa mengungkapkan sesuatu yang tidak dapat kutuangkan dengan hanya menulis berita, merekam gambar dari berbagai angle, atau saat duduk di warung kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti malam ini. Tak sia-sia aku ke kampus. Setelah puas menderai tawa di ident, aku ke diajak salah seorang senior ke Iranian Corner. Lumayan, baca buku gratisan, dan tentu saja main internet gratisan, hehehehehe. Weits, lebih beruntung lagi, di sini aku bisa dapat pengetahuan tentang Mazhab agama yang banyak dianut di Iran. Apa bedanya ya, dengan rutinitas agama yang kujalani selama ini di Indonesia? Setidaknya-tidaknya, kekecewaan melompongya liputan bisa kututupi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center" align="justify"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;Uuuuuaaaaapssss........!!! Aku mulai mengantuk. Lebih baik kuakhiri saja celotehan ini. Agh!! omong-omong, ini malam Sabtu, besok akan tiba malam Minggu. Aku membayangkan, malam ini para anak-anak zaman telah bersiap menyambut malam panjang itu, memastikan rencana kemana bersama kekasih, menyiapkan modal untuk foya-foya, atau bahkan mengatur siasat, bagaimana merayu kekasih agar bisa disetubuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup, malam minggu??!! Mungkin aku akan tetap ke kampus. Seperti biasa, pulang larut malam, trus lewat jalan di tepi danau. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah hatiku menangis di jalan itu. Risauku menderu, akan seperti apa nasib generasi di zamanku ke depan. Setelah kusaksikan di dinding kanal panjang, berderet pasangan anak-anak kampus, berciuman dan bergeliat dengan lentik jari mereka. Ugh!! Seandainya buah dada itu berbunyi seperti gendang saat dicengkeram, maka aku yakin, malam Minggu di jalan dekat kampus itu, akan riuh suara tabuh. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamalanrea, 18 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-8016723367002381048?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/8016723367002381048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=8016723367002381048' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/8016723367002381048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/8016723367002381048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/07/yup-masuk-kampus-lagi.html' title='Yup, Masuk Kampus Lagi!'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKP-EPtsxwI/AAAAAAAAACQ/viXAMFGWZDs/s72-c/LCAIGOW1XCAYDOQA7CA20HJUUCAZXTWJDCAUEJ41ZCA52NSR4CAW79F2CCAHTMMFRCADZHX8RCAOE9P12CA7DC1Y5CAHUQ7X5CAMJA2E1CAWU4YY8CAY8B97SCA3X6RY6CAX1CZETCAAV4SVYCAUH3917.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-858301600762270346</id><published>2008-07-15T00:35:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T02:45:41.315-07:00</updated><title type='text'>Lewat Kotamu Malam ini</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKP-uxXTFpI/AAAAAAAAACY/ssTrzmukn_A/s1600-h/XCAYU0YY9CA3FBJRECAGUAOPHCATDHIS9CAQXY0XWCACE0CQFCAIOP9YBCAAV5DYJCA20VYD1CAC6EK5KCAGTZ6OICA8K8AWMCA62ABR3CA3PD3VPCATDGIP1CADZNT74CAK881XNCACRX50JCAN56OSA.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234307271413143186" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKP-uxXTFpI/AAAAAAAAACY/ssTrzmukn_A/s200/XCAYU0YY9CA3FBJRECAGUAOPHCATDHIS9CAQXY0XWCACE0CQFCAIOP9YBCAAV5DYJCA20VYD1CAC6EK5KCAGTZ6OICA8K8AWMCA62ABR3CA3PD3VPCATDGIP1CADZNT74CAK881XNCACRX50JCAN56OSA.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Malam ini, aku melintas di kotamu. Dari balik kaca jendela mobil yang melaju, sepintas hanya kuamati riuh aktivitas kota mulai lengang. Namun lampu-lampu mercury masih keemasan menerangi jalan kulalui. Oya, di ujung jalan, dekat tanah lapang di pusat kotamu, juga masih nampak dua, hingga tiga gerobak penjaja kue terang bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ramainya mulai redup malam ini. Namun sepintas dalam benakku, sejak engkau memilih tinggal di sini, kota ini makin bersahaja saja. Ruh kehadiranmu seolah menggetarkan jantungya. Tak seperti kota itu, tempatmu dan teman-temanmu dulu bersenda dengan waktu. Kini sepi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdegup rasaku, dan hatiku terpikat untuk menaut tali perjalanan....Semoga dibalik lorong sana, kau sedang berdiri di atas beranda, merasai bisikan angin bahwa aku sedang lewat malam ini, membawa seribu asa ke tanah tempat aku dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mungkin kelak aku akan benar-benar singgah.......... &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-858301600762270346?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/858301600762270346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=858301600762270346' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/858301600762270346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/858301600762270346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/07/lewat-kotamu-malam-ini.html' title='Lewat Kotamu Malam ini'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SKP-uxXTFpI/AAAAAAAAACY/ssTrzmukn_A/s72-c/XCAYU0YY9CA3FBJRECAGUAOPHCATDHIS9CAQXY0XWCACE0CQFCAIOP9YBCAAV5DYJCA20VYD1CAC6EK5KCAGTZ6OICA8K8AWMCA62ABR3CA3PD3VPCATDGIP1CADZNT74CAK881XNCACRX50JCAN56OSA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-6484990379903353808</id><published>2008-07-10T09:06:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T05:30:01.415-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Redaksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi, aku kembali didesak oleh rekan, teman lama dari sebuah Majalah Wisata, meminta dibuatkan tulisan dari redaksi di majalahnya. Ia tiba-tiba muncul di Warkop Anas, dan menodongku. Wuuh! sungguh pekerjaan berat ditengah ikhtiar memburu liputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun silam, bahkan kalau tidak salah setahun lalu malah, aku masih  sempat terlibat menggarap majalah proyekan itu. Ya, waktu itu aku masih duduk dibangku kuliah. Biasalah, setelah berhasil menutupi uang SPP dengan hasil ’merampok’ beasiswa BBM sekaligus PPA, jadi mahasiswa kere, harus memikirkan lagi bagaimana mencari penghasilan sampingan untuk menutupi biaya hidup di Kota Makassar.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ini soal bagaimana bertahan hidup di Makassar dan melanjutkan studi di universitas yang katanya, terbaik di kawasan timur bung! Aku terima saja. Tak kuduga, ia menawari lagi. Namun, karena aktivitas sebagai ’prajurit di sebuah media’, maka kupilih menolak, dan kutawarkan ke seorang sahabat di kampus.&lt;br /&gt;Dari redaksi, aku tetap yang tangani. Dan, begini aku tulis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari Kabarkan Potensi Wisata Tanah Air Kita!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun berlalu, tak terasa waktu kembali mempertemukan Potret Wisata (PW) dengan pembaca, pecinta dan penikmat wisata sekalian. Setelah  tertatih-tatih menerbitkan edisi kedua tahun 2007 lalu, kini kami dari redaksi, kembali mencoba menjumpai pembaca dengan suguhan lokasi-lokasi wisata  menarik dan natural, bahkan   dapat memacu adrenalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada edisi tahun 2008 ini, ditengah hiruk pikuk silang pendapat, bahkan pertentangan secara politik pemilihan kepala daerah di segenap wilayah tanah air, khususnya di kawasan timur, PW  tetap berusaha eksis dengan ‘genre’sendiri, yaitu menjadi corong wisata dengan ikhtiar menelusuri, serta mengangkat  potensi wisata yang terdapat di Pulau Sulawesi, lepas dari jeratan kepentingan, apalagi  tendensi politis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan tahun sebelumnya, yang isinya didominasi lokasi wisata dari Sulawesi Selatan, kali kami akan mengajak Anda berkeliling Sulawesi dengan menyambangi sejumlah lokasi wisata lainnya di daerah Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Propinsi Gorontalo, dan Sulawesi Utara.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami akan mengajak pembaca budiman, tak hanya sebatas mengetahui lokasinya, tapi jauh dari itu, kami mencoba mengurai nilai-nilai dibalik objek, agar perolehan kenikmatan atas objek wisata tersebut utuh dirasakan pembaca sekalian.  Melalui, objek  wisata, kita dapat memahami arti sebuah anugerah Tuhan, merasai arti keindahan sesungguhnya, serta memahami arti sebuah perjuangan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, kami sadari, edisi kali ini juga tidak serta merta akan memuaskan pembaca sekalian, karena masih memiliki kekurangan-kekurangan. Untuk itu, kami berharapa pembaca dapat mengerti, mengingat keterbatasan kami selaku manusia biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mari kabarkan kepada dunia tentang potensi wisata tanah air kita. Selamat membaca..............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Hahahahaha! aku jadi malu sendiri. Mencoba menenggelamkan cita rasa tulisan tentang lokasi wisata yang belum tentu menarik dalam sebuah tulisan, dari redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengatakan, lewat majalah ini kami menghadirkan bacaan yang tak hanya menuntun pem baca pada soal bentuk fisik dan lokasi wisata. Tapi, lebih jauh kami akan menguak nilai dibalik objek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kukatakan, majalah kami hadir dan berpikir dalam dunianya sendiri, yaitu menyajikan potensi wisata kepada masyarakat, lepas dari segala kepentingan, apalagi  tendensi politis. Padahal, aku sendiri belum tahu, apa benar tulisan dalam majalah PW kali ini demikian.  &lt;br /&gt;Agh! Rasanya, aku seperti mpu yang sedang menempakan seorang tidak tampan, sebuah topeng besi............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Siapa mau mungkiri, media saat ini adalah topeng para pemilik kapital, untuk melanggengkan kepentingan ekonomi dan politiknya yang di direduksi ke dalam kehidupan sosial, bahkan agama.    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintis Kemerdekaan 4, 10 Juli 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-6484990379903353808?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/6484990379903353808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=6484990379903353808' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/6484990379903353808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/6484990379903353808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/07/dari-redaksi-siang-tadi-aku-kembali.html' title=''/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-8249179718664354412</id><published>2008-07-04T04:01:00.000-07:00</published><updated>2008-07-10T09:18:49.677-07:00</updated><title type='text'>Anak Semua Bangsa Dari Jogya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada juga untungnya meliput SMPTN di Unhas siang itu. Kebetulan, saat melintas depan anak-anak Student Employ..., yang nangkring di lantai dasar Gedung Rektorat Unhas, tiba-tiba saja terdengar suara memanggil namaku."Ka Boim!", begitu ia teriak. Rupanya adik si A, tetangga si B di pondokan C, tempat bertandang kalau malam minggu, waktu masih kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak, si adinda sudah balik dari Jogya. Sudah tahu, ya?! A menyergahku dengan nada tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oya!? Kapan dia balik? Kok, tidak mengirim kabar lewat HP, sebait kalimatpun".Aku lalu balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, A menjawab, "Tiga hari lalu",ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sudah kusempatkan singgah di pondokannya. Tadi malam, aku dan dia cerita panjang lebar tentang banyak hal, termasuk hubungan akrab, yang telah kujalin dengannya dalam setahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, mengawali cerita kami, ia lebih dulu menyeduh teh, lalu disuguhkan di atas meja. Entah, apa sebagai bentuk penghomatan, atau sekadar memberi tanda, bahwa diskusi akan panjang malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, ia akan sebulan di Makassar, menunggu hasil seleksi berkas, yang diajukannya untuk lanjut S2 di UGM, beberapa waktu lalu. Sambil menanti, rencananya ia akan kursus Bahasa Inggris di Makassar.Wah, planning-nya, mantap juga. Rasanya, sulit kusamai ikhtiar mencari ilmunya. Semoga kelak jadi orang besar sahabatku, saudariku kekasih Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tak banyak kata kulontarkan mengakhiri cerita malam ini dik. Terkecuali rasa terima kasih, tlah melengkapi koleksi buku Tetralogi Pram kupunya. Dulu, koleksi ini rasanya pincang. Aku hanya memiliki Bumi Manusia, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Kini, sempurna sudah dengan kadatangan, Anak Semua Bangsa, dari Kota Pelajar, Jogyakarta.......&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-8249179718664354412?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/8249179718664354412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=8249179718664354412' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/8249179718664354412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/8249179718664354412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/07/anak-semua-bangsa-dari-jogya.html' title='Anak Semua Bangsa Dari Jogya'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-9030301907830263533</id><published>2008-07-02T05:53:00.000-07:00</published><updated>2008-07-10T09:19:18.726-07:00</updated><title type='text'>Teken Kontrak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah setahun lebih mengabdi jadi stringer di RCTI, kini statusku berubah. Akhirnya, tepat pada hari Rabu, Tanggal 2 Juli 2008, aku resmi jadi salah satu kontributor Sun Televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       TV ini merupakan anak cabang televisi MNC Group. Tugasnya menyupali berita-berita dari kawasan timur ke tiga telivisi milik MNC Group di Jakarta, seperti RCTI, TPI dan Global TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlokasi di sekretariat Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI) Makassar, yang sekaligus menjadi kantor sementara Sun TV, aku dan beberapa rekan, sebagian diantaranya berasal dari daerah kabupaten di Sulawesi Selatan (Sulsel), teken kontrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegang juga. Ada gusar dalam dada. Semacam kekhawatiran akan kapasitas, kemampuan pirbadi. Mumpunikah aku, melakoni pekerjaan ini. Kerjanya mobile mencari peristiwa, mengejar momen, berpikir keras mencari angle yang tepat, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun, pada akhirnya kusadari. Bahwa setidaknya, pekerjaanku meningkat dibanding sebelumnya.  Dan, diantara para kontributor ini, saya termasuk termuda. Di bawah saya, ada Budi Yamin si pangeran Pasar Cidu. Usianya terpaut satu tahun setengah denganku. Selebihnya, adalah kalangan senior yang sudah beristri. Bahkan, mereka pada memiliki anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bayangkan, bagi para senior saja, yang sudah memiliki usia terpaut jauh dari diriku, masih nekat menerima pekerjaan ini. Nah, bagaimana mungkin aku tidak. &lt;br /&gt;Terlanjur beban sejarah kita pikul, dan profesi ini jalan bagiku untuk menapak  jejak di negeri ini. Maka meminjam ungkapan salah seorang sastrawan Makassar, Muhari Wahyu Nurba, mari berjuang, kabarkan kebenaran pada setiap yang tak jelas berkata” …………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bunda, indoku tercinta, yang kusayangi setelah Allah SWT dan Nabi-Nya, enam tahun kuliah di Unhas, baru sebatas ini pekerjaan bisa kuraih. Ini takdir, namun bukan akhir dari perjalananku. Semoga doa-doamu tetap mengiringi………&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-9030301907830263533?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/9030301907830263533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=9030301907830263533' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/9030301907830263533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/9030301907830263533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/07/teken-kontrak.html' title='Teken Kontrak'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-5702129778466577394</id><published>2008-07-01T06:22:00.001-07:00</published><updated>2008-07-10T09:20:59.599-07:00</updated><title type='text'>Ke Rumah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siang ini, kutuntaskan lagi satu berita. Waktu beranjak sore, kupikir, saatnya pulang ke rumah. Kamera, Laptop merk Apple milik si bos, charge, kabel DV, Headset tua entah merk apa, semua kukemas, dan kumasukkan ke dalam tas. Aku ingin segera tiba di rumah. Mandi, makan malam, lalu membaca buku ala kadarnya, dan kemudian tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat perkataan teman dua hari lalu, di tengah suasana peliputan, ia nyeletuk lalu berkata, “Kita ini petualang, begitu lekat dengan pekerjaan ini, namun rumah tetap saja jadi akhir dari perjalanan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya memang demikian. Seperti malam ini. Aku tak tahu harus kemana.Dan, ke rumahlah aku kembali……..&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-5702129778466577394?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/5702129778466577394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=5702129778466577394' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/5702129778466577394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/5702129778466577394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/07/ke-rumah.html' title='Ke Rumah'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-7115494090440500100</id><published>2008-07-01T06:07:00.001-07:00</published><updated>2008-07-10T09:21:21.061-07:00</updated><title type='text'>Kenangan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selepas meliput, dari Warkop Anas, aku langsung menyambangi kampus Unhas. Demi memenuhi undangan salah seorang yunior di organisasi kampus, untuk makan bareng. Motor butut keluaran 96 milik satu-satunya terpaksa kukebut, agar tak satupun momen  terlewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kali ini, aku masuk kampus lagi. Teringat masa-masa waktu masih kuliah dulu, saat masih lucu-lucunya membuat tugas kuliah, belajar berorganisasi,  dan menguber gadis-gadis. Agh! Rasanya, ingin kuulang masa-masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak kisah, sangat majemuk rindu yang kuruah di kampus ini. Aku harap, masih ada menemaniku bercerita, tentang beribu kenangan yang terkulai di pelataran dan sudut-sudut kampus?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-7115494090440500100?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/7115494090440500100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=7115494090440500100' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/7115494090440500100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/7115494090440500100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/07/kenangan.html' title='Kenangan'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-4366065375558578385</id><published>2008-06-04T18:53:00.001-07:00</published><updated>2008-07-10T09:21:41.726-07:00</updated><title type='text'>Untuk Kau</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku hanya berdiri menepi di jalan ini&lt;br /&gt;menguak misteri tersimpang&lt;br /&gt;Pernah dulu, aku berkata :&lt;br /&gt;di langit sana ada hati yang menyepi&lt;br /&gt;beku dari es yang mengembun saat pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin menghilir dari selatan&lt;br /&gt;membawa senyum kembang matahari&lt;br /&gt;Aku lalu terhempas, jatuh ke peluk bidadari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingin merengkuh segenap jiwa&lt;br /&gt;di sepi terdalam&lt;br /&gt;Aku yang terbatas berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau bagaikan manik-manik berkilauan&lt;br /&gt;di dasar danau bening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suci jiwaMu&lt;br /&gt;anggun rupaMu.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engku meruak di jiwa&lt;br /&gt;dalam rasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UntukMu tak tersentuh,&lt;br /&gt;tak dapat dilukis perupa.............&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-4366065375558578385?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/4366065375558578385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=4366065375558578385' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/4366065375558578385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/4366065375558578385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/06/untuk-kau.html' title='Untuk Kau'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-1009936945636675435</id><published>2008-06-04T18:15:00.001-07:00</published><updated>2008-07-10T09:22:12.873-07:00</updated><title type='text'>Optimis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dulu, ketika di kampus, saya kadang  memikirkan. Kok bisa ya,  saya anak desa ini, yang di masa-masa kecilnya waktunya lebih banyak dihabiskan  untuk membantu orang tua di sawah dan di ladang,  tiba-tiba bisa  kuliah di perguruan tinggi negeri. Terlebih, dalam pikiran masyarakat tanah bugis, universitas tersebut termasuk ternama di  di jazirah sulawesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat, mulai mengenal tetek bengek kampus, kemudian mulai aktif kuliah, bergelut di lembaga kemahasiswaan, bergaul di komunitas-komunitas pergerakan kampus, telah bergumul dengan pemikiran para pakar sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama, dari fase antroposentrisme, renaissance, hingga postmodern. Dari Socrates, Manifesto Komunis Karl Marx, Paulo Freire, tentang Teologi pembebasan dunia pendidikan, Ali Saryati, Averroes atau Ibnu Rusyd, Syaikh Muhammad At-tamimi dalam Kitab Tauhid, dan banyak lagi.(Cieeeee, mahasiswa nu lawan, hehehehe). Pikiran tentang, kok bisa ya, saya kuliah di universitas negeri tetap saja membelit dalam benak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, hingga beberapa saat tak lagi aktif kampus, pertanyaan sama masih terbesit dalam hati kecilku. Kok, saya yang mahasiswa kacangan dari kampus ini, tiba-tiba bisa bergaul  dengan  j’’’’’’j’’’’’kelas senior di Makassar. Dalam setiap kali saya memasuki lingkungan baru dalam pergaulan sosial, selalu saja  muncul pertanyaan-pertanyaan sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar kehidupan sebagai anak petani, lahir di tengah keluarga sederhana, acapkali membuat diri saya minder pada lingkungan sosial dimana saya bergaul. Termasuk saat kuliah dulu. Saya di mata teman-teman, adalah sosok pemalu, dan kurang percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setelah menyaksikan seabrek kenyataan hidup, kini pada akhirnya rasa itu pupus. Saya teringat seorang mantan presiden India, Abdul Kamal, saya teringat sosok salah satu presiden di Indonesia yang pernah berkuasa selama 25 tahun, Soeharto. Saya teringat  banyak pemikir-pemikir dunia, saya teringat banyak tokoh-tokoh humanis dunia, saya teringat teringat kisah-kisah para nabi yang kerap diceritakan ibu/bapak guruku sewaktu SMU dulu, saya teringat sosok Nabi Muhammad, dan sebagainya. Mereka lahir dari desa-desa, pernah merasakan hidup di latar panggung kehidupan para pengembala, petani, peladang dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar diantara tokoh-tokoh besar itu tak sekadar jadi penyaksi, tapi pelakon, bahkan menjadi bagian dari perhelatan hidup yang keras. Mereka pernah jadi pengembala, jadi penunggu musim yang setia, menanam bibit, menanti kapan bulir padi menguning, menanti kapan musim panen tiba, setelah itu memikirkan lagi, kapan musim bercocok tanam tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat perkataan Abdul Kamal, tak ada gunanya berpikir pesimis, jadilah pemimpi, yang terus memimpikan apa yang diinginkan, niscaya apa yang kau mimpikan akan terbawa dalam pikiranmu, dan apa yang kau pikirkan akan kau aplikasikan dalam tindakan. Lewat karyanya, “akar saya dari desa, Soeharto seolah menegaskan pada setiap anak bangsa, bahwa   lahir dari latar kehidupan pedesaan adalah kebanggaan yang besar, karena dengan latar itu, hidup akan lebih berdinamika. Jika dikenang kehidupan masa kecil di pedesaan memang selalu menarik, indah, romantik, dan natural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa senangnya mengingat masa-masa kecil di pedesaan, saat musim mainan  terus bergulir. Layangan, gasing, dan sebagainya. Terlebih saat musim buah tiba. Musim durian. Langsat, rambutan, dan seterusnya. Ataukah  mengenang rutinitas sore, mandi di sungai. Fase-fase yang tentunya, kini sangat susah untuk ditemui di belantara gedung-gedung tinggi di kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah wajar, jika pada beberapa tahun silam, selama jadi presiden, Soeharto kerap berkata, dirinya berakar dari desa. Di zaman edan kini, memang desa diibaratkan sebagai benteng pertahanan terakhir dari gerusan budaya-budaya neokapitalis. Ia adalah akar, dimana tertancap kearifan-kearifan lokal, yang mengajari siapapun pernah ada di dalamnya, agar senantiasa bersahaja- meski pada akhirnya begitu banyak orang dari desa, termasuk Soeharto, jadi lalim dan tidak bersahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Saw, selalu dikenal sebagai sosok yang tawwaddu’, dan mengajarkan pada umatnya untuk senantiasa jadi orang-orang yang bersabar, teguh pada ajaran Ilahia dan berjalan di atas kemuliaannya. Berabad-abad yang lalu, lahir pemikir-pemikir dari pinggiran yang  kemudian melahirkan gagasan-gagasan sosial yang hingga kini masih disuguhkan di bangku-bangku kuliah. Karl Marx misalnya. Di belahan bumi Eropa, karya Mouzart masih begitu dikenal dalam dunia seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sekarang, saya lebih banyak berpikir sebagai  orang beruntung. Dibanding manusia-manusia terpinggirkan di kolong jembatan sana. Begitu banyak yang tidak beruntung, hidup dalam kemalangan, setiap hari mereka bergulat memperjuangkan hidupnya, haknya untuk sekadar tidur nyenyak. Mengapa kita mesti pesimis, sementara masih banyak orang yang begitu optimis akan mampu mendapatkan haknya untuk tidur di tepi-tepi jalan. Bersyukurlah saya yang masih diberi ruang untuk dapat tidur nyenyak di kota ini, dan masih makan tiga kali sehari.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-1009936945636675435?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/1009936945636675435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=1009936945636675435' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/1009936945636675435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/1009936945636675435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/06/optimis.html' title='Optimis'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-5360082277220713387</id><published>2008-06-04T18:09:00.001-07:00</published><updated>2008-06-04T18:15:04.905-07:00</updated><title type='text'>ASTER</title><content type='html'>Di tengah bingar dentuman musik, saat jarum jam mendekati pukul 01.00 dini hari, seorang perempuan tiba-tiba mendekat ke meja kami. Ia  merangut, memintaku menemaninya  bergoyang. “Mas, temanin aku dong. Yuk!”&lt;br /&gt;Ups, aku dan teman saling saling berpandangan, sedikit heran. “Bidadari darimanakah kiranya yang kesasar ke meja para kuli tinta ini,” celetuk salah seorang teman, sedikit keder melihat keanggunan perempuan itu.&lt;br /&gt;Aroma Tequila menebar dari mulutnya, menusuk hidung. Rasa-rasanya, setelah mencium baunya, wajahku bak ditumpahi segelas minuman khas dari Meksiko itu.&lt;br /&gt;Ia lantas menarik tanganku-sedikit memaksa. “Sudahlah, ikuti saja. Kasihan gadis secantik ini ditolak keinginannya,” temanku angkat bicara lagi. Aku tak dapat menampik. “Yup, boleh,” sahutku pada perempuan itu. Dari wajahnya, bisa ditelisik, usianya mungkin baru berkisar 18 atau 19 tahun.&lt;br /&gt;Aku digiringnya ke depan panggung, tepat berhadapan dengan DJ. Perlahan, ia lalu berbalik membelakangiku. Posisinya seolah terdekap olehku. Ini kesempatan buatku mencuri pandang, ‘menelisik’ sekujur tubuhnya.&lt;br /&gt;Untuk konteks Indonesia, ia terbilang tinggi. Nyaris menyamaiku, hanya terpaut 2 senti. Jika diukur, mungkin mencapai 164 sentimeter. Bodinya? Pas seperti apa yang dianalogikan oleh orang selama ini. Sungguh berlekuk seperti gitar Spanyol. Dengan paduan Jeans Leecooper standar dan oblong berwarna putih ketat di tubuhnya, ia kelihatan sangat cantik dan seksi.&lt;br /&gt;                             ------------------&lt;br /&gt;“I want to break free”. Reff lagu rilisan dewa itu seperti menyihir dan menggerayangi seluruh tubuhnya. Ia menggelinjang namun slomotion, lalu meliuk naik turun.&lt;br /&gt;“Oww…lelaki siapa yang tak bergairah melihat gerakannya ini,” bisikku pelan. Aku lalu mengumpat dalam hati, “mengapa aku harus dipertemukan dengan gadis titisan bidadari ini, dalam ruang yang gemerlap ini. Mengapa tidak di kampus. Saat duduk-duduk di kelas, misalnya. Atau, pokoknya selain di ruang yang selalu kubenci saat mahasiswa ini,” pikirku.&lt;br /&gt;“Ah, seandai kedatanganku ke tempat ini hanya sekadar untuk bersenang-senang, maka segera akan kuhanyutkan tubuhku ini dalam irama liukan tubuhnya,” pikirku lagi.&lt;br /&gt;Sayang, kehadiranku bukan bertujuan untuk itu. Mengingat profesi, aku sedikit “jaim”. Aku hanya bergoyang sedikit, tapi dalam ritme yang sangat kecil. Sejengkal pun, aku tak bergeser dari posisi dimana aku berdiri.&lt;br /&gt;Sembari memerhatikan gerakan-gerakan perempuan ini. Sesekali kulemparkan pandanganku ke arah kedua rekanku. Mereka duduk menepi mengelilingi meja di sebelah kanan ruangan, tempat dimana kami duduk bersama setiap masuk ke club ini.&lt;br /&gt;Dalam kerlip lampu lighting kutangkap senyum mereka, sedikit mengolok. Nampaknya mereka tahu, kalau baru kali pertama aku menghadapi situasi seperti ini. Memang, aku kelihatan sangat gugup.&lt;br /&gt;”Oh, seandainya saja mereka memerhatikan getaran lututku, atau merasakan sedikit keringat dingin yang bercucur di tubuhku. Maka bisa dibayangkan, kisah ini pasti akan terus menjadi pemicu gelak tawa di kantor nanti,” bisikku dalam hati.&lt;br /&gt;                         ---------------------------&lt;br /&gt;Aku ditemani oleh mereka melakukan penelusuran mengenai aktivitas di club-club malam (tugas redaksi sebuah majalah). Kami disodori tugas menyorot mahasiswi penggiat clubing atau biasa diistilahkan “mahasiswi ajep-ajep”.&lt;br /&gt;Perjalan liputan sudah memakan waktu tiga hari empat malam. Kami menelusuri jejak mahasiswi ajep-ajep dengan menggunakan beberapa jalur. Termasuk melalui pendekatan bisik-bisik di kampus.&lt;br /&gt;Bila siang, kami bergaul ke kampus. Namun, ketika malam merambat, kami akan menyambangi satu persatu seluruh club malam yang ada dalam kota. Tak satupun tempat hiburan malam yang tersisa, sebab, kami memang mengandalkan data dari hasil tersebut.&lt;br /&gt;Di malam keempat, di sebuah club terkenal kota ini, kami bertemu dengan perempuan bernama Aster. Ia dalam keadaan mabuk, lalu menghampiri dan mengajakku bergoyang ria. Setelah melewati satu lagu, ketika itu, ia pergi begitu saja.         &lt;br /&gt;                    ------------------------------------&lt;br /&gt;Dua hari setelah malam itu, siang, mendekati pukul 12.00, seorang perempuan menyapaku di koridor sebuah fakultas. Aku berpapasan di sudut kelas. “Eh, kak. Kamu anak sospol juga, ya,” sergahnya  gugup. Wajahnya yang putih mulus, berubah merona. Kedua pipinya seperti dibaluri sedo dalam sekejap.&lt;br /&gt;Tanpa aba-aba, hatiku kemudian berpuisi. “Oh, Tuhan…, seharum itukah peluh yang kutinggalkan, hingga bidadari ini mengetahui kemana kujejakkan langkah mencarinya”.&lt;br /&gt;Senyumku lalu menguncup. Dalam benakku terbesit kata; sedari malam yang lalu, aku sudah merasa tak asing dengan wajahmu. Ketika itu aku berpikir, sepertinya, perempuan ini pernah kulihat di fakultas tempatku kuliah.&lt;br /&gt;Setelah malam itu, aku mencoba mengikuti jejakmu di kampus, tapi tak kunjung kutemui. Sepenggal kisahmu lalu kudengar dari salah seorang yuniorku di jurusan. Katanya, kaulah bunga di angkatan teman sekuliahmu.&lt;br /&gt;Katanya lagi, sejak dirimu baru menginjakkan kakimu di kampus ini, begitu banyak senior yang bertekuk lutut dan merajuk ingin kaujadikan pacarmu. Tapi semuanya kau tampik. Konon, setiap kali kau menolak mereka, kau selalu berkata, “Cintaku untuk semua lelaki”. &lt;br /&gt;“Eh, kak. Aku mau makan siang,” ia membuyarkan konsentrasiku. Kemudian kudengar dari bibirnya yang ranum, bersambung lembut seuntai kalimat yang hampir sama diucapkan pada malam itu.  “Temanin aku ke kantin dong, yuk!” Jari telunjukku digenggam, lalu digandengnya seolah aku ini adalah pangerannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-5360082277220713387?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/5360082277220713387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=5360082277220713387' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/5360082277220713387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/5360082277220713387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/06/aster.html' title='ASTER'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-774111285871102237</id><published>2008-06-04T18:04:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T18:05:08.540-07:00</updated><title type='text'>Warung Kopi, Cita Rasa dan Obrolan</title><content type='html'>Zaman boleh berubah, tapi aroma kopi tak pernah lekang. Warung kopi yang tumbuh subur tidak sekadar jadi tempat obrolan. Lebih dari itu, warkop merupakan rumah inspirasi, karena selain melepas penat, juga ide-ide segar bisa lahir di tempat ini. Warkop juga menjadi bursa informasi, karena sambil menyerumput kenikmatan kopi, berbagai informasi mulai dari kabar burung, analisa politik, sampai rahasia orang bisa dibincangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah warung kopi (warkop) bukannya baru didengar. Semenjak dahulu, tempat kongkow yang satu ini telah populer. Selain untuk menikmati kopi, dulu, menjadi tempat obrolan yang asyik. Apalagi pada malam hari. Maka tak heran jika muncul istilah; tak lengkap rasanya, secangkir kopi tanpa ditemani pisang goreng dan lantunan irama musik dangdut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, di zaman sekarang. Istilah apalagi yang muncul untuk mengungkapkan kenyamanan kongkow di warkop. Pastinya, saat ini, lantunan lagu dan menu yang menyuasanainya tak melulu dangdutan dan pisang goreng. Bahkan, seiring dengan pikuknya kehidupan modern di kota,  kesan itu perlahan berubah.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menawarkan candu kopi, sejumlah pemilik warkop di Kota Makassar juga menawarkan suasana. Agar sejalan dengan karakteristik masyarakat kota yang modern, dalam hal ini, konsep warkop didesain lebih elegan dan modern pula.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malahan, ada yang menggeser warkop ke dalam konsep kafe. Ini lebih diarahkan pada pemenuhan kebutuhan di kalangan menengah ke atas saja. Bahkan ada yang lebih diarahkan untuk kalangan eksekutif. Sangat ekslusif, baik dari tawaran tempat maupun standar pelayanannya. Boleh dibilang, konsep ini lebih berstandar gaya hidup. Karena harganya cukup ’mengigit’.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, apapun segmentasinya, konsep warkop tak pernah jauh dari cita rasa dan obrolan. Di Kota Makassar sendiri, setiap warkop memiliki daya tarik pada dua sisi ini. Menawarkan cita rasa, atau suasana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-774111285871102237?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/774111285871102237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=774111285871102237' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/774111285871102237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/774111285871102237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/06/warung-kopi-cita-rasa-dan-obrolan.html' title='Warung Kopi, Cita Rasa dan Obrolan'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-620250708214155262</id><published>2008-05-17T01:00:00.000-07:00</published><updated>2010-05-02T07:34:35.760-07:00</updated><title type='text'>Di Beranda Malam ini Dik</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SC6gz0Ap-vI/AAAAAAAAAA0/S-Ur5JXG0wg/s1600-h/sabit+bulan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SC6gz0Ap-vI/AAAAAAAAAA0/S-Ur5JXG0wg/s200/sabit+bulan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201271431654669042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Malam ini, kulewati di beranda kamar saja. Sambil menyeruput teh buatan Ame, kupandangi bulan sabit menyipu di seperdua langit bagian timur sana. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Aku baru saja tiba di kamar ini. Peluhku belum usang. Namun, dalam senyap lirih terus meringkih. Akhirnya, kupilih mengulik malam. Menerawang diantara detak jarum jam dari kamar tetangga sebelah.          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ah, masih belum lekang pertemuan tadi sore itu. Di pelataran,  arti perpisahan juga diurai oleh waktu. Aku tak banyak mengumbar kata, hanya tunduk pada keangkuhan takdir. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dik, rasanya tak perlu mendeskripsikannya sebagai akhir. Ini untaian dari perjalanan hidup. Semuanya masih tetap berlanjut. Akan ada masanya, kita berpasrah dan mengharap tak ada yang perlu diobati.      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Bulan kini, berada di puncak langit. Hpku bergetar digelitik kata-kata ketulusan . Ia menuturkan peluh mengikuti alur takdirnya,...... Jujur, hari ini sangat berat bagiku. Tapi saya yakin, semuanya akan indah pada waktunya….....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Duh, adik..., tak pernah kutemui deretan kalimat selembut bahasamu itu, tulus, lagi tegar seperti ketegasan larik bulan sabit menyapa malam ini.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Semoga beribu makna dipetik orang-orang mustada’fin dari ilmu  yang engkau tanam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-620250708214155262?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/620250708214155262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=620250708214155262' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/620250708214155262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/620250708214155262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/05/di-beranda-malam-ini-dik.html' title='Di Beranda Malam ini Dik'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SC6gz0Ap-vI/AAAAAAAAAA0/S-Ur5JXG0wg/s72-c/sabit+bulan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-3487897420880509090</id><published>2008-05-06T21:35:00.000-07:00</published><updated>2010-05-02T07:25:27.267-07:00</updated><title type='text'>Akhirnya Kupahami</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SCKR2eqOv_I/AAAAAAAAAAk/d73FAOtZJ5g/s1600-h/anakkreatif.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SCKR2eqOv_I/AAAAAAAAAAk/d73FAOtZJ5g/s200/anakkreatif.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197877285068128242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;"Akhirnya aku memahami arti keberadaan di saat sore yang menguncup itu"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;br /&gt;Sore ini, aku memilih merepih waktu di beranda rumah. Di atas sebuah kursi tua, aku duduk memanja. Agar tak bosan, kubawa segelas kopi. Dan, sesekali kuseruput seperti menyela larik gerimis hujan. &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;Lalu satu-satu, kisah asmaraku selama di kota ini kembali kukais dalam pikiran. Kususun seperti cerita panjang dalam novel. Punya awal, juga akhir. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;apa yang berarti dalam perjalanan ini, kecuali hanya kisah-kisah kegagalan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;Aku teringat seorang senior. Waktu lalu, sebelum meninggalkan  Makassar ke Jakarta, ia mengutarakan pendapat soal aku.  Ia katakan, aku  ini seperti anak panah. Sifatnya selalu melesat cepat, dan mampu  menembus sasaran. Kalau dalam cinta, aku mampu meretakkan hati.  Hehehe...,Waow! aku bukannya mau "terbang," saudara, malah rasanya mau  kubenamkan saja kepalaku ke dalam tanah. "Wallahualambissawab!" &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;Bukan tak mau membenarkan. Tapi dalam perjalanan hidupku,  apa yang diungkapkan itu, rasa-rasanya tak pernah aku alami. Malah  sebaliknya, hatiku yang lebih sering diretakkan. Yah, aku pikir itu  lebih tepat.&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-3487897420880509090?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/3487897420880509090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=3487897420880509090' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/3487897420880509090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/3487897420880509090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/05/akhirnya-kupahami.html' title='Akhirnya Kupahami'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SCKR2eqOv_I/AAAAAAAAAAk/d73FAOtZJ5g/s72-c/anakkreatif.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-1951786801195253266</id><published>2008-05-05T16:00:00.000-07:00</published><updated>2010-05-02T06:15:02.973-07:00</updated><title type='text'>Senja dan Sepotong Waktu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SB-UTgRAi5I/AAAAAAAAAAU/lejC5H0mt-I/s1600-h/senja.gif"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SB-UTgRAi5I/AAAAAAAAAAU/lejC5H0mt-I/s200/senja.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197035557808540562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tak ada lain kuingat sore ini, hanya buku kumpulan cerita pendek Seno Gumira Ajidharma; Jazz, Parfum, dan Insiden. Pada satu  bagian ceritanya, menghadirkan sesosok lelaki penikmat senja. Dengan senyap pria itu menelisik larik-larik senja yang bias menerjang angkuhnya beton-beton tinggi menjulang di Kota Jakarta. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hidup lelaki itu tertawan senja. Sore tiba, ia menerawang bak memahami bait-bait puisi lirih. Baginya, mungkin ada kenangan dibalik senja. Seperti sebuah kejadian barangkali. Soal perjumpaan dengan wanita, atau boleh jadi, ia ditinggal pergi istri, atau orang yang dicintainya saat senja menyepuh langit di sebelah barat . &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Senja seperti sebuah gradasi warna diantara warna-warna yang tegas. Hadir berdiri sendiri pada bentuk yang berbeda. Sangat maknawi. Karena itu, senja tak terbatas hanya pada warna yang diguratkan. Melainkan ditelisik hingga terurai dalam pengertian yang mengapresiasi kedirian orang yang melihatnya.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kadang juga, kita memaknai senja seperti isyarat perpisahan menuju sisi lain kehidupan. Hanya dinikmati pada sepotong waktu. Ada yang katakan, senja seperti pintu ruang yang diukir dengan motif kenangan.    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;                                                                                      ***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kini, langit Masamba mulai temaram. Di bagian barat, senja pelan-pelan memupus. Diantara apitan perbukitan dan rimbunan pohon kelapa, dari sini, senja tidak begitu nampak. Hanya cahayanya menyapa segenap penghuni Desa Perintis. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tak lama lagi, malam tiba. Suara jangkrik juga mulai riuh dan menjadi satu-satunya yang menghibur saat malam di Desa Perintis. Namun, Di kolong Alang milik salah seorang penduduk, dekat tanah lapang, aku belum beranjak pulang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di sisi bukit perintis, jejak senja belum lekang. Aku dengan seorang sahabat duduk berhadapan di kolong Alang itu dan bercerita tentang kenangan-kenangan yang terkulai lunglai sewaktu di kampus dulu. Namun, cerita ini hanya sekadar saja. Kami lebih kerap melempar pandangan ke arah datangnya cahaya senja, lantas membisu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sesekali, aku dan sahabat menyeruput kopi yang disajikan istri pak desa. Indo Canni namanya.  Kopi ini hasil racikannya ini rasanya sangat nikmat, terlebih disajikan dalam cangkir terbuat dari bambu-Sehari sebelumnya, setelah tahu kami akan datang ke rumahnya, Indo Canni sengaja menumbuk kopi, hasil dari kebun dekat rumahnya buat disuguhkan hari ini.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Entah, bagiku senja sore ini cukup berbeda. Warna dan cahayanya seperti memapah ritme dan menjumut degupan jantungku. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sembari memandangi senja, sesekali aku menghela nafas, dan menghirup udara segar yang bertiup melewati celah-celah hutan perawan menuju Desa Perintis. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dari tepi-tepi bukit,dengan menyeberangi sungai, satu demi satu, terlihat rombongan keluarga petani. Mereka berlomba dengan kabut, yang akan segera turun. Mereka bergegas keluar dari bibir hutan dan segera menelusuri  setapak yang membelah tanah lapang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Nampaknya, mereka baru saja pulang dari kebun, atau sawah mereka. Dan, kini hendak menuju sungai membersihkan badan, lantas pulang ke  rumah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suasana yang mengingatkan, akan kehidupan dulu di kampung halaman, tempat kelahiranku. Ah, Terusik batinku untuk pulang.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;                                                                                    ***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dari surau, suara adzan mengumandang. Gemanya menggelinding ke tebing-tebing pegunungan, ke tengah hutan yang mengitari Desa Perintis hingga menyergah orang-orang untuk segera masuk rumah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada sisi keberadaanku, di tepi tanah lapang, senja telah beku oleh kabut yang menyelimuti jantung desa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kemarin, pada waktu sama, saat matahari menepi di sisi langit bagian barat, dan larik-larik senja menggurat. Lewat pesan singkat di HP, gadis itu mengungkapkan keangkuhan. Mungkin itulah sebabnya, mengapa senja menawanku sore ini. Rupanya, warnanya mengabstraskin rasa yang tertampik...Hahahaha!  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Uhh....! Aku lebih berharap, ungkapan ajakan tak seharusnya dia maknai terbatas pada untaian kalimat yang keluar dari mulut saja. Namun lebih dari itu. Seperti mendengarkan musik Jazz, kata Seno dalam novelnya. Rentetan lantunan musik Jazz adalah bentuk ekspresi untuk membebaskan jiwa yang terkungkung, bukan sekadar irama musik. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Harusnya, gadis itu memahami dan mengerti nilai dibalik ungkapan ajakanku seperti memahami musik Jazz-Kendati sedikit dipaksakan, hehehe! Ajakan tak sebatas ajakan, tapi bentuk ekspresi jiwa dan rasa yang menjerit. Maka itu harus dihargai. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Meski begitu, pada akhirnya aku harus memahami, memang bahasaku tak sebanding lantunan musik Jazz. Bahkan, tak seampuh ungkapan kalimat para lelaki-lelaki pesolek. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kini, cukuplah aku mengenangnya hanya pada sepotong waktu, tatkala cahaya senja merona, dan mega-mega berarak dihempas angin di Desa Perintis, hingga berlalu ke selatan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-1951786801195253266?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/1951786801195253266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=1951786801195253266' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/1951786801195253266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/1951786801195253266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/05/senja-dan-sepotong-waktu.html' title='Senja dan Sepotong Waktu'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SB-UTgRAi5I/AAAAAAAAAAU/lejC5H0mt-I/s72-c/senja.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3783290300611176484.post-2261250507108067163</id><published>2008-04-25T05:58:00.000-07:00</published><updated>2010-05-02T06:02:50.544-07:00</updated><title type='text'>Sedikit seduhan tehmu..........</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 102);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SBHgwARAi4I/AAAAAAAAAAM/RpfjLh12zWo/s1600-h/cangkir+teh"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SBHgwARAi4I/AAAAAAAAAAM/RpfjLh12zWo/s200/cangkir+teh" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193178960644574082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Di jalan itu, tempat tinggal gadis bugis menyimpuh diri di Makassar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;Tiap pagi, sedikit seduhan tehnya senantiasa menghangatkan perjalanan.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 102);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Dan, bila senja menepi di sisi barat langit, tehnya merengkuh rindu tuk pulang bersimpuh. Aku ingat aroma teh bunda.  Diseduh penuh rasa, hingga larut pada relung nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, hingga kapan rasa teh gadis itu menyepuh dahaga. Sepeti teh bunda menyejukkan risau.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamalanrea, 25 April 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3783290300611176484-2261250507108067163?l=anakpugalu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anakpugalu.blogspot.com/feeds/2261250507108067163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3783290300611176484&amp;postID=2261250507108067163' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/2261250507108067163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3783290300611176484/posts/default/2261250507108067163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anakpugalu.blogspot.com/2008/04/sedikit-seduhan-tehmu.html' title='Sedikit seduhan tehmu..........'/><author><name>anakpugalu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12913752548130461492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_G7HSMvbK2Yo/SBHgwARAi4I/AAAAAAAAAAM/RpfjLh12zWo/s72-c/cangkir+teh' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
